Dalam syariat Islam, perempuan yang
dicerai wajib tetap tinggal di rumah suaminya selama dalam iddah. Dia diharamkan
keluar rumah, dan suami diharamkan mengeluarkan bekas isterinya itu dari rumah
tanpa suatu alasan yang dapat dibenarkan.
Hal ini disebabkan suami, selama dalam
iddah, masih diperkenankan merujuk dan mengembalikan isteri kepada perlindungan
perkawinan untuk sekali lagi --apabila talaq ini baru satu atau dua kali. Sedang
tinggalnya seorang isteri di dalam rumah suami sangat memungkinkan untuk
membangkitkan perasaan suami dan mengingat-ingat serta berfikir sebelum habis
iddah itu, dan sebelum berakhirnya bulan-bulan iddah dimana perempuan
diperintahkan supaya menunggu guna mendapatkan suatu keyakinan bersihnya rahim
serta melindungi hak suami dan kehormatan isteri. Sebab hati selalu berubah,
fikiran selalu baru, seorang yang sedang marah kadang-kadang menjadi rela, orang
yang naik pitam kadang-kadang menjadi dingin dan orang yang benci kadang-kadang
menjadi cinta.
Sehubungan dengan persoalan perempuan
yang dicerai ini, Allah s.w.t. telah berfirman dalam al-Quran sebagai
berikut:
"Dan takutlah kamu kepada Allah, Tuhanmu. Jangan kamu usir mereka itu dari rumah-rumah mereka dan jangan sampai mereka itu keluar rumah, kecuali apabila mereka berbuat kejahatan yang terang-terangan; dan yang demikian itu adalah batas-batas ketentuan Allah, dan barangsiapa melanggar batas-batas ketentuan Allah, maka sungguh dia telah berbuat zalim pada dirinya sendiri; kamu tidak tahu barangkali Allah akan mengadakan hal baru sesudah itu." (at-Thalaq: 1)
Kalau perceraian antara suami-isteri itu
satu hal yang tidak mungkin dielakkan lagi, maka yang dituntut dari kedua belah
pihak supaya perceraiannya itu dilakukan dengan baik, tidak menyakitkan, tidak
bikin-bikin dan tidak mengabaikan hak.
Firman Allah:
Halal & Haram Dalam Islam"Tahanlah mereka dengan baik atau cerailah mereka dengan baik pula." (at-Thalaq: 2)"Maka tahanlah dengan baik atau lepaslah dengan baik pula." (at-Thalaq: 299)"Untuk perempuan-perempuan yang dicerai harus diberi hiburan (mata') dengan baik, sebagai kewajiban atas orang-orang yang taqwa." (al-Baqarah: 241)
Dr. Yusuf Al-Qardhawi
Kunjungi juga:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar