Selasa, 28 Juli 2015

QADHA DAN QADAR Syekh Utsaimin

Bagian 15:

Ketiga: Al- Masyiah (kehendak).
Artinya: bahwa segala sesuatu, yang terjadi atau
tidak terjadi, di langit dan di bumi, adalah dengan
kehendak Allah . hal ini dinyatakan jelas dalam Al
Qur’an Al Karim. Dan Allah  telah menetapkan bahwa
apa yang diperbuat-Nya, serta apa yang diperbuat para
hamba-Nya juga atas kehendak-Nya. Firman Allah:

“(Yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau
menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat
menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila
dikehendaki Allah,Tuhan semesta alam”. ( At Takwir: 28
-29).

“Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka
tidak mengerjakannya”. ( Al – An’am : 112).

“Seandainya Allah menghendaki, tidaklah
mereka berbunuh-bunuhan. Akan tetapi Allah berbuat
apa yang dikehandaki-Nya”. (Al Baqarah: 253).
Dalam ayat–ayat tersebut Allah  menjelaskan
bahwa apa yang diperbuat oleh manusia itu terjadi
dengan kehendak-Nya.
Dan banyak pula ayat–ayat yang menunjukkan
bahwa apa yang diperbuat Allah adalah dengan
kehendak-Nya. Seperti firman Allah:

“Dan kalau Kami menghendaki niscaya akan
Kami berikan kepada tiap–tiap jiwa petunjuk (bagi)
nya”. ( As Sajdah: 13).

Sponsor link:


TINGKATAN QADHA’ DAN QADAR

Bagian 14:

Menurut Ahlussunnah Wal Jamaah, qadha’ dan
qadar mempunyai empat tingkatan:
Pertama: Al-‘Ilm (pengetahuan)
Artinya: mengimani dan meyakini bahwa Allah
 Maha Tahu atas segala sesuatu. Dia mengetahui apa
yang ada di langit dan di bumi, secara umum maupun
terperinci, baik itu termasuk perbuatan-Nya sendiri atau
perbuatan makhluk-Nya. Tak ada sesuatupun yang
tersembunyi bagi-Nya.
Kedua: Al-kitabah (penulisan)
Artinya: mengimani bahwa Allah  telah
menuliskan ketetapan segala sesuatu dalam lauh
mahfuzh.
Kedua tingkatan ini sama-sama dijelaskan oleh
Allah  dalam firman-Nya:

“Apakah kamu tidak mengetahui bahwa
sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di
langit dan di bumi; bahwasanya yang demikian itu
terdapat dalam sebuah kitab (lauh mahfuzh).
sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi
Allah”. (Al- Hajj:70).
Dalam ayat ini disebutkan lebih dahulu bahwa
Allah  mengetahui apa saja yang ada di langit dan di
bumi, kemudian dikatakan bahwa yang demikian itu
tertulis dalam sebuah kitab lauh mahfuzh.
Sebagaimana dijelaskan pula oleh Rasulullah 
dalam sabdanya:“ Pertama kali tatkala Allah 
menciptakan qalam (pena), Dia firmankan kepadanya:
tulislah!. Qalam itu berkata: ya Tuhanku, apakah yang
hendak kutulis? Allah  berfirman: Tulislah apa saja
yang akan terjadi! maka seketika itu bergeraklah qalam
itu menulis segala sesuatu yang akan terjadi hingga hari
kiamat”.
Ketika Nabi Muhammad  ditanya tentang apa
yang hendak kita perbuat, apakah sudah ditetapkan atau
tidak ? beliau menjawab: “ sudah ditetapkan”.
Dan ketika beliau ditanya: “mengapa kita mesti
beramal dan tidak pasrah saja dengan takdir yang sudah
tertulis? beliapun menjawab: “beramallah kalian, masingmasing
akan dimudahkan menurut takdir yang telah
ditentukan baginya”. Kemudian beliau membaca firman
Allah:

“Adapun orang yang memberikan hartanya (di
jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya
pahala yang terbaik, maka Kami akan memudahkan
baginya (jalan) yang mudah. Sedangkan orang yang
bakhil dan merasa dirinya cukup serta mendustakan
adanya pahala yang terbaik, maka Kami akan
memudahkan baginya (jalan) yang sukar”.( Al Lail: 5 –
10).
Oleh karena itu hendaklah anda berusaha,
sebagaimana yang diperintahkan Nabi Muhammad 
kepada para sahabat. "Anda akan di mudahkan menurut
takdir yang telah ditentukan Allah ".

Sponsor link:


QADHA DAN QADAR Syekh Utsaimin

Bagian 13:

Dengan demikian jelaslah bagi kita bahwa
manusia mempunyai kehendak dan pilihan dalam
perbuatan yang dilakukannya secara sadar, bukan
terpaksa. Kalau manusia berbuat dengan kehendak dan
pilihannya untuk kepentingan dunia, maka iapun
seharusnya begitu pula dalam usahanya menuju akhirat.
Bahkan jalan menuju akhirat lebih jelas. Karena Allah 
telah menjelaskannya dalam Al-Qur’an dan melalui
sabda Rasul-Nya , maka jalan menuju akhirat tentu saja
lebih jelas dan lebih terang daripada jalan untuk
kepentingan dunia.

Namun kenyataannya, manusia mau berusaha
untuk kepentingan dunia yang tidak terjamin hasilnya dan
meninggalkan jalan menuju akhirat yang telah terjamin
hasilnya dan diketahui balasannya berdasarkan janji
Allah , dan Allah  tidak akan menyalahi janji-Nya.
Pembaca yang budiman
Inilah yang menjadi ketetapan Ahlussunnah Wal
Jamaah dan inilah yang menjadi aqidah serta madzhab
mereka, yaitu bahwa manusia berbuat atas dasar
kemauannya dan berkata menurut keinginannya, tetapi
keinginan dan kemauannya itu tidak lepas dari kemauan
dan kehendak Allah . Dan Ahlussunnah Wal Jamaah
mengimani bahwa kehendak Allah  tidak lepas dari
hikmah kebijaksanaan-Nya, bukan kehendak yang mutlak
dan absolut, tetapi kehendak yang senantiasa sesuai
dengan hikmah kebijaksanaan-Nya. Karena di antara
asma Allah  adalah AL- HAKIM yang artinya: Maha
Bijaksana yang memutuskan segala sesuatu dan bijaksana
dalam keputusan-Nya.
Allah  dengan sifat hikmah-Nya, menentukan
hidayah bagi siapa yang di kehendaki-Nya yang menurut
pengetahuan-Nya benar-benar menginginkan al-haq dan
hatinya dalam istiqamah. Dan dengan sifat hikmah-Nya
pula, dia menentukan kesesatan bagi siapa yang suka
akan kesesatan dan hatinya tidak senang dengan Islam.
Sifat hikmah Allah  tidak dapat menerima bila orang
yang suka akan kesesatan termasuk orang-orang yang
mendapat petunjuk, kecuali jika Allah  memperbaiki
hatinya dan merubah kehendaknya, dan Allah  Maha
Kuasa atas segala sesuatu. Namun, sifat hikmah-Nya
menetapkan bahwa setiap sebab berkait erat dengan
akibatnya.

Sponsor link:


QADHA DAN QADAR Syekh Utsaimin

Bagian 12:

Jika anda mau berusaha untuk mencari rizki dan
untuk mempertahankan kelangsungan kehidupan anda,
sehingga kalau anda sakit, pergi kemanapun mencari
dokter ahli untuk mengobati penyakit anda, padahal anda
tahu kalau ajal telah ditentukan, tidak akan dapat
bertambah dan tidak berkurang. Anda tidak bersikap
pasrah sambil berkata: “sudahlah aku tetap tinggal di
rumah saja meski menderita sakit, karena kalaupun aku di
takdirkan panjang umur aku akan tetap hidup”. Bahkan
anda berusaha sekuat tenaga untuk mencari dokter yang
ahli, yang sekiranya dapat menyembuhkan penyakit anda
dengan takdir Allah. Jika demikian, mengapa usaha anda
di jalan akhirat dan dalam amal shaleh tidak seperti usaha
anda untuk kepentingan duniawi?

Sebagaimana telah aku kemukakan bahwa
masalah qadar adalah rahasia Allah  yang tersembunyi,
tak mungkin anda dapat mengetahuinya. Sekarang anda
di antara dua jalan: jalan yang membawa anda kepada
keselamatan, kebahagiaan, kedamaian dan kemuliaan;
dan jalan yang dapat membawa anda kepada kehancuran,
penyesalan, dan kehinaan. Sekarang anda sedang berdiri
di antara ujung kedua jalan tersebut dan bebas untuk
memilih, tak ada seorangpun yang akan merintangi anda
untuk melalui jalan yang kanan atau jalan yang kiri. Anda
dapat pergi kemanapun sesuka hati anda. Lalu mengapa
anda memilih jalan kiri (sesat) kemudian berdalih bahwa
"itu sudah takdirku”? apa tidak lebih patut jika anda
memilih jalan kanan dan mengatakan bahwa “itu
takdirku” ?

Untuk lebih jelasnya, apabila anda mau
bepergian ke suatu tempat dan dihadapan anda ada dua
jalan. Yang satu mulus, lebih pendek dan lebih aman;
sedang yang kedua rusak, lebih panjang dan mengerikan.
Tentu saja anda akan memilih jalan yang mulus, yang
lebih pendek dan lebih aman, tidak memilih jalan yang
tidak mulus, tidak pendek dan tidak aman. Ini berkenaan
dengan jalan yang visual, begitu juga dengan yang non
visual, sama saja dan tidak ada bedanya. Namun kadangkala
hawa nafsulah yang berperan dan menguasai akal.
Padahal, sebagai seorang mu’min seyogyanya akalnyalah
yang harus lebih berperan dan menguasai hawa nafsunya.
Jika orang menggunakan akalnya, maka akal itu menurut
pengertian yang sebenarnya akan melindungi pemiliknya
dari yang membahayakan dan membawanya kepada yang
bermanfaat dan membahagiakan.

Sponsor link:


Senin, 27 Juli 2015

QADHA DAN QADAR Syekh Utsaimin

Bagian 11:

Ini tidak dibenarkan sama sekali, sebab
sebenarnya manusia mempunyai kehendak dan
kemampuan.
Masalah hidayah persis seperti masalah rizki dan
menuntut ilmu. Sebagaimana kita semua tahu bahwa
manusia telah ditentukan untuknya rizki yang menjadi
bagiannya. Namun demikian dia tetap berusaha untuk
mencari rizki ke sana dan kemari; baik di daerahnya
sendiri atau di luar daerahnya. Tidak duduk di rumah saja
seraya berkata: “kalau sudah ditakdirkan untukku rizkiku
tentu ia akan datang dengan sendirinya”. Bahkan dia akan
berusaha untuk mencari rizki tersebut. Padahal rizki ini
disebutkan bersamaan dengan amal perbuatan,
sebagaimana di sebutkan dalam hadits Nabi  yang
diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud : “Sesungguhnya
kalian ini dihimpunkan kejadiannya dalam perut ibu
selama empat puluh hari berupa air mani, kemudian
berubah menjadi segumpal darah selama empat puluh
hari pula, kemudian berubah menjadi segumpal daging
selama empat puluh hari pula, lalu Allah mengutus
seorang malaikat yang diberi tugas untuk mencatat empat
perkara, yaitu rizkinya, ajalnya, amal perbuatannya dan
apakah ia termasuk orang celaka atau bahagia”.
Jadi rizki inipun telah tercatat seperti halnya amal
perbuatan, baik ataupun buruk, juga telah tercatat.
Kalau begitu, mengapa anda pergi kesana dan
kemari untuk mencari rizki dunia tetapi tidak berbuat
kebaikan untuk mencari rizki akhirat dan mendapatkan
kebahagiaan surga? padahal kedua-duanya adalah sama,
tidak ada perbedaannya.

Sponsor link:


QADHA DAN QADAR Syekh Utsaimin

Bagian 10:

Sekarang kalau semuanya kembali kepada
kehendak Allah dan segalanya berada di Tangan Allah,
lalu apakah jalan dan upaya yang akan ditempuh
seseorang apabila dia telah ditakdirkan Allah tersesat dan
tidak dapat petunjuk?
Jawabnya: bahwa Allah  menunjuki orangorang
yang patut mendapat petunjuk dan menyesatkan
orang-orang yang patut menjadi sesat. Firman Allah:

“Maka tatkala mereka berpaling (dari
kebenaran) Allah memalingkan hati mereka; dan Allah
tiada memberi petunjuk kepada kaum yang fasik”.( Ash
Shaf: 5).

“(Tetapi ) karena mereka melanggar janjinya,
Kami kutuk mereka dan Kami jadikan hati mereka keras
membatu, mereka suka merobah perkataan (Allah) dari
tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan
sebahagian dari apa yang mereka yang telah diberi
peringatan dengannya” (Al Ma’idah: 13).
Di sini Allah  menjelaskan bahwa Dia tidak
menyesatkan orang yang sesat kecuali disebabkan oleh
dirinya sendiri. Dan sebagaimana telah kami terangkan
tadi bahwa manusia tidak dapat mengetahui apa yang
telah ditakdirkan oleh Allah  untuk dirinya. Karena dia
tidak mengetahui takdirnya kecuali apabila sudah terjadi,
maka dia tidak tahu apakah dia ditakdirkan Allah menjadi
orang yang tersesat atau menjadi orang yang mendapat
petunjuk.
Kalau begitu, mengapa jika seseorang menempuh
jalan kesesatan lalu berdalih bahwa Allah  telah
menghendakinya demikian? Apa tidak lebih patut
baginya menempuh jalan kebenaran kemudian
mengatakan bahwa Allah  telah menunjukkan
kepadaku jalan kebenaran?
Pantaskah dia menjadi orang yang jabri kalau
tersesat dan qadari(1) kalau berbuat kebaikan?
Sungguh tak pantas seseorang menjadi jabri
ketika berada dalam kesesatan dan kemaksiatan, kalau ia
tersesat atau berbuat maksiat kepada Allah  ia
mengatakan: “ini sudah takdirku, dan tak mungkin aku
dapat keluar dari ketentuan dan takdir Allah”; tetapi
ketika berada dalam ketaatan dan memperoleh taufiq dari
Allah untuk berbuat ketaatan dan kebaikan ia
mengatakan: “ini kuperoleh dari diriku sendiri”. Dengan
demikian ia menjadi qadari dalam segi ketaatan dan
menjadi jabri dalam segi kemaksiatan.

Sponsor link:


SANGGAHAN ATAS PENDAPAT KEDUA

Bagian 9:

Adapun pendapat kedua, yaitu pendapat
golongan yang ekstrim dalam menetapkan kemampuan
manusia, maka pendapat inipun bertentangan dangan
nash dan kenyataan. Sebab banyak ayat yang
menjelaskan bahwa kehendak manusia tidak lepas dari
kehendak Allah . Firman Allah:

“(Yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau
menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat
menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila di
kehendaki oleh Allah, Tuhan semesta Alam ". (At Takwir:
28- 29).

"Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia
kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan
bagi mereka” ( Al Qashash: 68).

“Allah menyeru (manusia) ke Darussalam
(surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya
kepada jalan yang lurus (Islam)” (Yunus: 25).
Mereka yang menganut pendapat ini sebenarnya
telah mengingkari salah satu dari rububiyah Allah, dan
berprasangka bahwa ada dalam kerajaan Allah ini apa
yang tidak dikehendaki dan tidak diciptakan-Nya.
Padahal Allah lah yang menghendaki segala sesuatu,
menciptakannya dan menentukan qadar (takdir)nya.

Sponsor link:


QADHA DAN QADAR Syekh Utsaimin

Bagian 8:

Andai kita menganut pendapat yang batil ini,
niscaya sia-sialah firman Allah  ini:

“(Kami utus mereka) sebagai rasul-rasul
pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar
supaya tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah
Allah sesudah di utusnya Rasul-rasul itu. Dan Allah
maha Perkasa lagi maha Bijaksana ". (An- Nisaa’: 165).
Dalam ayat ini Allah  menjelaskan bahwa
tidak ada alasan lagi bagi manusia setelah di utusnya para
Rasul, karena sudah jelas hujjah Allah  atas mereka.
Maka seandainya masalah takdir bisa dijadikan alasan
bagi mereka, tentu alasan ini akan tetap berlaku sekalipun
sesudah di utusnya para Rasul. Karena qadar (takdir)

Allah  sudah ada sejak dahulu sebelum diutusnya para
Rasul dan tetap ada sesudah mereka diutus.
Dengan demikian pendapat ini adalah batil
karena tidak sesuai dengan nash (dalil) dan kenyataan,
sebagaimana telah kami uraikan dengan contoh-contoh di
atas.

Sponsor link:


SANGGAHAN ATAS PENDAPAT PERTAMA

Bagian 7:

Pembaca yang budiman!
Seandainya kita mengambil dan mengikuti
pendapat golongan yang pertama, yaitu mereka yang
ekstrim dalam menetapkan qadar, niscaya sia-sia lah
syari’at ini dari tujuan semula. Sebab bila dikatakan
bahwa manusia tidak mempunyai kehendak dalam
perbuatannya, berarti tidak perlu dipuji atas perbuatannya
yang terpuji dan tidak perlu dicela atas perbuatannya
yang tercela. Karena pada hakikatnya perbuatan tersebut
dilakukan tanpa kehendak dan keinginan darinya.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa
Allah  maha suci dari pendapat dan paham yang
demikian ini.
Adalah merupakan kezhaliman, jika Allah 
menyiksa orang yang berbuat maksiat yang perbuatan
maksiat tersebut terjadi bukan dengan kehendak dan
keinginannya.
Pendapat seperti ini sangat jelas bertentangan
dengan firman Allah :

“Dan (malaikat) yang menyertai dia berkata:
"inilah (catatan amalnya) yang tersedia pada sisiku,
Allah berfirman: “lemparkanlah olehmu berdua ke
dalam neraka semua orang yang sangat ingkar dan keras
kepala; yang sangat enggan melakukan kebaikan,
melanggar batas lagi ragu-ragu; yang menyembah
sesembahan yang lain beserta Allah, maka lemparkanlah
dia ke dalam siksaan yang sangat (pedih ). Sedang (
syaitan ) yang menyertai dia berkata: “ya Rabb kami,
aku tidak menyesatkannya, tetapi dialah yang berada
dalam kesesatan yang jauh". Allah berfirman:
“Janganlah kamu bertengkar di hadapan-Ku, padahal
sesungguhnya Aku dahulu telah memberikan ancaman
kepadamu. Keputusan di sisi-Ku tidak dapat diubah, dan
Aku sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Ku" (
Qaaf : 23- 29).

Dalam ayat ini Allah  menjelaskan bahwa
siksaan dari-Nya itu adalah karena keadilan-Nya, dan
sama sekali Dia tidak zhalim terhadap hamba-amba-Nya.
Sebab Allah  telah memberikan peringatan dan
ancaman kepada mereka, telah menjelaskan jalan
kebenaran dan jalan kesesatan bagi mereka, akan tetapi
mereka memilih jalan kesesatan, maka mereka tidak akan
memiliki alasan di hadapan Allah  untuk membantah
keputusan-Nya.

Sponsor link:


QADHA DAN QADAR Syekh Utsaimin

Bagian 6;

Manusia bisa membedakan antara perbuatan
yang terjadi karena kehendaknya sendiri dan yang terjadi
karena terpaksa. Sebagai contoh, orang yang dengan
sadar turun dari atap rumah melalui tangga, ia tahu kalau
perbuatannya atas dasar pilihan dan kehendaknya sendiri.
Lain halnya kalau ia terjatuh dari atap rumah, ia tahu
bahwa hal tersebut bukan karena kehendaknya. Dia dapat
membedakan antara kedua perbuatan ini, yang pertama
atas dasar kehendaknya dan yang kedua diluar
kehendaknya. Dan siapapun mengetahui perbedaan ini.
Begitu juga orang yang menderita sakit beser
umpamanya, ia tahu kalau air kencingnya keluar tanpa
kemauannya. Tetapi apabila ia sudah sembuh, ia sadar
bahwa air kencingnya keluar atas kehendaknya. Dia
mengetahui perbedaan antara kedua hal ini dan tak ada
seorangpun yang mengingkari adanya perbedaan
tersebut.

Demikian segala hal yang terjadi pada diri
manusia, dia mengetahui, perbedaan antara mana yang
terjadi dengan kemauannya dan mana yang tidak.
Akan tetapi, karena kasih sayang Allah , ada
diantara perbuatan manusia yang terjadi atas kemauannya
namun tidak dinyatakan sebagai perbuatannya. Seperti
perbuatan orang yang terlupa, dan orang yang sedang
tidur. Firman Allah  dalam kisah Ashabul kahfi:

“...Dan kami bolik–balikkan mereka ke kanan
dan ke kiri …” (Al- Kahfi: 18).
Padahal mereka sendiri yang sebenarnya berbalik
ke kanan dan berbalik ke kiri, tetapi Allah  menyatakan
bahwa Dialah yang membalik–balikkan mereka ke kanan
dan ke kiri, sebab orang yang sedang tidur tidak
mempunyai kemauan dan pilihan serta tidak
mendapatkan hukuman atas perbuatannya. Maka
perbuatan tersebut di nisbatkan kepada Allah .
Dan sabda Nabi Muhammad : “Barang siapa yang lupa
ketika dalam keadaan berpuasa, lalu makan atau minum,
maka hendaklah ia menyempurnakan puasanya, karena
Allah yang memberinya makan dan minum."
Dinyatakan dalam hadits ini, bahwa yang
memberi makan dan minum adalah Allah , karena
perbuatan orang tersebut terjadi di luar kesadarannya,
maka seakan–akan terjadi tanpa kemauannya.

Sponsor link:


QADHA DAN QADAR Syekh Utsaimin

Bagian 5:

Ketiga: mereka yang beriman, sehingga diberi
petunjuk oleh Allah  untuk menemukan kebenaran
yang telah diperselisihkan. Mereka itu adalah
Ahlussunnah Wal Jamaah. Dalam masalah ini mereka
menempuh jalan tengah dengan berpijak di atas dalil
syar’i dan dalil aqli. Mereka berpendapat bahwa
perbuatan yang dijadikan Allah  di alam semesta ini
terbagi atas dua macam:
1- Perbuatan yang dilakukan oleh Allah 
terhadap makhluk-Nya. Dalam hal ini tak ada kekuasaan
dan pilihan bagi siapapun. Seperti turunnya hujan,
tumbuhnya tanaman, kehidupan, kematian, sakit, sehat
dan banyak contoh lainnya yang dapat disaksikan pada
makhluk Allah . Hal seperi ini, tentu saja tak ada
kekuasaan dan kehendak bagi siapapun kecuali Allah 
yang maha Esa dan kuasa.
2- Perbutan yang dilakukan oleh semua
makhluk yang mempunyai kehendak. Perbuatan ini
terjadi atas dasar keinginan dan kemauan pelakunya;
karena Allah  menjadikannya untuk mereka.
Sebagaimana firman Allah :

“Bagi siapa diantara kamu yang mau menempuh
jalan yang lurus”. (At Takwir: 28).

“Di antara kamu ada orang yang menghendaki
dunia dan di antara kamu ada orang yang menghendaki
akhirat”.( Ali Imran: 152).

“Maka barang siapa yang ingin (beriman)
hendaklah ia beriman, dan barang siapa yang ingin
(kafir) biarlah ia kafir “ ( Al Kahfi: 29).

Sponsor link:


PENDAPAT – PENDAPAT TENTANG QADAR

Bagian 4:

Pembaca yang budiman.
Umat Islam dalam masalah qadar ini terpecah
menjadi tiga golongan:
Pertama: mereka yang ekstrim dalam
menetapkan qadar dan menolak adanya kehendak dan
kemampuan makhluk. Mereka berpendapat bahwa
manusia sama sekali tidak mempunyai kemampuan dan
keinginan, dia hanya dikemudikan dan tidak mempunyai
pilihan, laksana bulu yang tertiup angin. Mereka tidak
membedakan antara perbuatan manusia yang terjadi atas
kehendaknya dan perbuatan yang terjadi diluar
kehendaknya, tentu saja mereka ini keliru dan sesat,
kerena sudah jelas menurut agama, akal dan adat
kebiasaan bahwa manusia dapat membedakan antara
perbuatan yang di kehendaki dan perbuatan yang
terpaksa.
Kedua: mereka yang ekstrim dalam menetapkan
kemampuan dan kehendak makhluk sehingga mereka
menolak bahwa apa yang diperbuat manusia adalah
karena kehendak dan keinginan Allah  serta diciptakan
oleh-Nya. Menurut mereka, manusia memiliki kebebasan
atas perbuatannya. Bahkan ada diantara mereka yang
mengatakan bahwa Allah  tidak mengetahui apa yang
diperbuat oleh manusia kecuali setelah terjadi. Mereka
inipun sangat ekstrim dalam menetapkan kemampuan
dan kehendak makhluk.

Sponsor link:


PENGERTIAN TAUHID DAN MACAM – MACAMNYA

Bagian 3:

Walaupun masalah qadha’ dan qadar menjadi
ajang perselisian di kalangan umat Islam, tetapi Allah 
telah membuka hati para hamba-Nya yang beriman, yaitu
para salaf shaleh yang mereka itu senantiasa menempuh
jalan kebenaran dalam pemahaman dan pendapat.
Menurut mereka qadha’ dan qadar adalah termasuk
rububiyah Allah  atas makhluk-Nya. Maka masalah ini
termasuk dalam salah satu diantara tiga macam tauhid
menurut pembagian ulama:
Pertama: tauhid Al-Uluhiyah, ialah mengesakan
Allah  dalam beribadah, yakni beribadah hanya kepada
Allah dan karena-Nya semata.
Kedua: tauhid Ar-Rububiyah, ialah mengesakan
Allah  dalam perbuatan-Nya , yakni mengimani dan
meyakini bahwa hanya Allah yang mencipta, menguasai
dan mengatur alam semesta ini.
Ketiga: tauhid Al-Asma’ wash-Shifat, ialah
mengesakan Allah  dalam asma’ dan sifat-Nya. artinya
mengimani bahwa tidak ada makhluk yang serupa dengan
Allah  dalam dzat, asma’ maupun sifat.
Iman kepada qadar adalah termasuk tauhid Ar
Rububiyah. Oleh karena itu imam Ahmad rahimahullah
berkata: “qadar adalah merupakan kekuasaan Allah ".
Karena tak syak lagi, qadar (takdir) termasuk qudrat dan
kekuasan-Nya yang menyeluruh, di samping itu, qadar
adalah rahasia Allah  yang tersembunyi, tak ada
seorangpun yang dapat mengetahuinya kecuali Dia,
tertulis di lauh mahfuzh dan tak ada seorangpun yang
dapat melihatnya. Kita tidak tahu, takdir baik atau buruk
yang telah ditentukan untuk kita maupun untuk makhluk
lainnya, kecuali setelah terjadi atau berdasarkan nash
yang shahih.

Sponsor link:


QADHA DAN QADAR Syekh Utsaimin


1
PENDAHULUAN
Segala puji bagi Allah  yang telah mengutus
hamba-Nya Muhammad  dengan membawa kebenaran,
menyampaikan amanat kepada ummat dan berjihad
dijalan-Nya hingga akhir hayat. Semoga shalawat dan
salam senantiasa dilimpahkan kepada beliau, berikut para
keluarga, shahabat dan pengikutnya yang setia.
Dalam pertemuan ini, kami akan membahas
suatu masalah yang kami anggap sangat penting bagi kita
umat Islam, yaitu masalah qadha’ dan qadar. Mudahmudahan
Allah  membukakan pintu karunia dan
rahmat-Nya bagi kita, menjadikan kita termasuk para
pembimbing yang mengikuti jalan kebenaran dan para
pembina yang membawa pembaharuan.
Sebenarnya masalah ini sudah jelas. akan tetapi
kalau bukan karena banyaknya pertanyaan dan
banyaknya orang yang masih kabur dalam memahami
masalah ini serta banyaknya orang yang
membicarakannya, yang kadangkala benar tetapi
seringkali salah; di samping itu tersebarnya pemahaman–
pemahaman yang hanya mengikuti hawa nafsu dan
adanya orang–orang fasik yang berdalih dengan qadha’
dan qadar untuk kefasikannya; seandainya bukan karena
itu semua, niscaya kami tidak akan berbicara tentang
masalah ini.
Sudah sejak duhulu masalah qadha’ dan qadar
menjadi ajang perselisian di kalangan umat Islam.
Diriwayatkan bahwa Rasulullah  keluar menemui
shahabatnya, ketika itu mereka sedang berselisih tentang
masalah qadha’ dan qadar maka beliau melarangnya dan
memperingatkan bahwa kehancuran umat–umat terdahalu
tiada lain karena perdebatan seperti ini.

Sponsor link:


QADHA DAN QADAR

Bagian 1:

SEKAPUR SIRIH
DARI PENERJEMAH
Dengan memohon petunjuk ke hadirat Allah ,
kami hadirkan ke hadapan anda sebuah buku kecil yang
menyoroti masalah yang selalu menjadi ajang perdebatan
di kalangan ulama hingga sekarang, yaitu masalah
“Qadha’ dan Qadar”.
Dalam buku ini dijelaskan secara gamblang
prinsip yang dianut oleh ahlussunnah wal jama`ah dan
para ulama salaf dalam masalah ini, dan diuraikan pula
kerancuan yang terdapat dalam paham-paham yang
menyimpang dari garis kebenaran, berdasarkan dalil naqli
dan dalil ‘aqli.
Diharapkan buku yang mungil ini dapat
memenuhi harapan para pembaca, baik dari kalangan
terpelajar maupun umum, yang ingin memperoleh
gambaran jelas tentang masalah tersebut.
Semoga Allah  menjadikan amal kami ini
ikhlas semata–mata untuk-Nya dan bermanfaat bagi para
hamba-Nya yang beriman dan membimbingnya dari
kegelapan menuju cahaya kebenaran.
Penerjemah
Masykur Mz

Sponsor link:


Jumat, 24 Juli 2015

Kata Pengantar

Segala puji bagi Allah, hanya kepada-Nya kami memuji,
meminta pertolongan dan memohon ampunan serta bertaubat.
Kami memohon perlindungan kepada-Nya dari kejahatan jiwajiwa
kami serta keburukan amalan-amalan kami. Barang siapa
yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tiada seorang pun yang
dapat menyesatkannya, dan barang siapa yang Ia sesatkan,
maka tiada satu pun juga yang dapat memberikan petunjuk
kepadanya. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak untuk
disembah kecuali hanya Allah saja, tiada sekutu bagi-Nya. Dan
aku bersaksi bahwa Muhammad adalah seorang hamba dan
utusan-Nya. Allah telah mengutusnya dengan petunjuk dan
agama yang benar, agar Dia memenangkannya di atas agama-agama
seluruhnya. Allah telah mengutusnya sedang kiamat
telah dekat masanya, sebagai pemberi kabar gembira dan
peringatan, dan untuk menjadi penyeru kepada agama Allah
dengan izin-Nya, serta untuk menjadi cahaya yang menerangi
alam semesta. Lalu, dia pun menyampaikan risalah (ajaran agama Islam), melaksanakan amanah, memberi nasehat kepada
umat, dan berjihad di jalan Allah dengan jihad yang sebenarbenarnya
hingga datang kematian kepadanya. Kemudian Allah
pun memberi taufik (hidayah atau petunjuk) kepada orang yang
Ia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya untuk menyambut
dakwah beliau, sehingga hamba tersebut mengambil petunjuk
hanya dari petunjuk beliau. Dan Allah juga dengan
kebijaksanaan-Nya membiarkan (tersesat) orang yang Ia
kehendaki di antara hamba-hamban-Nya, maka ia pun sombong
dari ketaatan kepada Nabi-Nya, mendustakan kabar yang
datang darinya, tidak mau mengikuti perintahnya. Maka, hamba
tersebut kembali dengan kerugian dan kesesatan yang sejauhjauhnya.
Amma ba'du: Pada pembahasan kali ini, akan kami ulas sebuah
tema yang berkisar seputar kemuliaan akhlaq dan budi
pekerti yang luhur.
Al-Khuluq (bentuk mufrad/tunggal dari kata akhlaq -pent)
berarti perangai atau kelakuan, yakni sebagaimana yang
diungkapkan oleh para ulama:" Gambaran batin seseorang ".
Karena pada dasarnya manusia itu mempunyai dua gambaran :
1. Gambaran zhahir (luar): Yaitu bentuk penciptaan yang telah
Allah jadikan padanya sebuah tubuh. Dan gambaran zhahir
tersebut di antaranya ada yang indah dan bagus, ada yang
jelek dan buruk, dan ada pula yang berada pada
pertengahan di antara keduanya atau biasa-biasa saja.
2. Gambaran batin (dalam): Yaitu suatu keadaan yang melekat
kokoh dalam jiwa, yang keluar darinya perbuatanperbuatan,
baik yang terpuji maupun yang buruk (yang
dapat dilakukan) tanpa berfikir atau kerja otak.
Dan gambaran ini juga ada yang baik jika memang keluar dari
akhlaq yang baik, dan ada pula yang buruk jika keluar dari
akhlaq yang buruk. Inilah yang kemudian disebut dengan nama
"khuluq" atau akhlaq. Jadi, khuluq atau akhlaq adalah gambaran
batin yang telah ditetapkan pada seseorang.Dan wajib bagi setiap muslim untuk berperilaku dengan akhlaq
yang mulia ini. Karena, sesuatu yang berharga dari tiap-tiap
benda merupakan sesuatu yang baik dari benda tersebut, dan di
antaranya adalah perkataan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
Sallam kepada Mu'adz bin Jabal:
إياك وكرائم أموالهم
”…dan hati-hatilah dari harta-harta mereka yang berharga…”1,
yakni ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam
memerintahkannya untuk mengambil zakat dari penduduk kota
Yaman.
Maka, setiap orang harus berusaha agar hati atau gambaran
batinnya menjadi mulia. Sehingga ia mencintai kemuliaan dan
keberanian, juga mencintai sifat santun dan kesabaran. Ketika
bertemu dengan sesama hendaknya ia menampakkan wajah
yang berseri-seri, hati yang lapang, dan jiwa yang tenang. Dan
semua sifat-sifat di atas merupakan bagian dari akhlaq yang
mulia.
Telah bersabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam:
أكمل المؤمنين إيمانًا أحسنهم خلقًا
“Mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah yang
paling baik akhlaqnya”2.
Maka, sudah sewajarnya jika pembicaraan ini selalu berada di
depan mata seorang mukmin. Karena, jika seseorang
mengetahui bahwa dia tidak akan bisa menjadi figur yang sempurna keimanannya kecuali dengan memperbaiki budi
pekertinya, maka hal ini akan menjadi sebuah pendorong
baginya untuk berperilaku dengan budi pekerti yang baik dan
sifat-sifat yang tinggi mulia, serta ia akan meninggalkan
perbuatan yang rendah dan hina.

Sponsor link: