Sabtu, 05 September 2015

Kemanusiaan, Kebangsaan dan Keetnikan

Baiklah kita mulai dengan yang ringan-ringan dahulu, yaitu cerita silat. Tokohnya seorang pendekar pedang yang buta Zato Ichi. Film ini terdiri atas beberapa seri. Ilmu silat pendekar buta ini lain dari yang lain. Caranya memegang pedang seperti memegang pisau, lebih banyak menusuk ketimbang menebas. Dalam salah satu seri Zato Ichi berkerja sama dengan dengan seorang samurai, yang tentu saja pendekar pedang juga, ya pendekar samurai. Keduanya mencari seorang pelukis yang diculik oleh sekelompok pengacau. Walaupun keduanya bekerja sama tetapi dengan motif sendiri-sendiri. Motivasi Zato Ichi adalah kemanusiaan, mempertemukan seorang balita dengan ayahnya, si pelukis itu. Balita itu anak yatim, ibunya meninggal, ayahnya diculik. Pendekar samurai itu adalah petugas kerajaan, mencari pelukis itu karena melanggar ketertiban. Lukisannya yang porno menyebar diperjual-belikan.

Setelah keduanya berhasil melumpuhkan kelompok pengacau itu, terjadi pertikaian antara Zato Ichi dengan petugas itu. Zato Ichi ingin agar pelukis itu bebas. Alasannya ia melukis yang porno karena dipaksa. Lagi pula ada anaknya yang masih balita yang mesti dipelihara. Petugas kerajaan ingin menangkap pelukis itu untuk diadili, karena sudah melanggar hukum. Pertikaian diselesaikan dengan pedang. Akhirnya petugas kerajaan mengalah, walaupun keduanya sama-sama unggul bermain pedang.

Dalam cerita silat itu terjadi pertentangan antara kemanusiaan dengan rule of law, bagian dari disiplin nasional, salah satu unsur dari kesadaran berbangsa. Ringkasnya pengarang mempertentangkan kemanusiaan dengan kebangsaan, walaupun aklhirnya pengarang memenangkan kemanusiaan.

Sebuah cerita lagi, Taras Bulba, seorang pemimpin dan panglima perang dari etnik Kazak. Yang berperang untuk membebaskan etniknya dari Kerajaan Polandia. Cerita ini difokuskan pada pengepungan sebuah benteng Polandia oleh Taras Bulba. Seperti lazimnya waktu itu benteng tidak hanya dihuni oleh para serdadu, tetapi juga orang-orang sipil bermukim di dalamnya. Anak Taras
Bulba yang ditugaskan menyusup ke dalam benteng tidak tahan melihat penderitaan, anak-anak, perempuan, orang-orang jompo yang memperebutkan tikus yang baru berhasil ditangkap, untuk dimakan. Mereka itu kelaparan, korban perang, yang mereka tidak tahu menahu tentang perang itu. Lalu tanpa memberitahu ayahnya, ia menghalau sekawan ternak mendekati benteng keesokan harinya. Orang-orang Polandia di dalam benteng berhasil mendapatkan ternak potong itu. Akhir cerita Taras Bulba mengeksekusi anaknya karena pengkhianatan. Dalam cerita Taras Bulba ini kemanusiaan dipertentangkan dengan keetnikan, dan yang dimenangkan adalah keetnikan.

Dalam cerita Ramayana lain lagi. Rahwana menculik Shita, isteri Rama. Terjadi perang. Adik Rahwana yang bernama Kumbakarna, walaupun tahu dan mengakui kakaknya salah, ia tetap membela kakaknya. Prinsip Kumbakarna, right or wrong my country. Tidak sama dengan adik yang paling bungsu Wibiksana. Ia mengkhianati kakaknya dan memihak Rama. Ya untuk membela keadilan dan kebenaran, unsur penting dalam kemanusiaan. Dalam Ramayana ini kemanusiaan dipertentangkan dengan kebangsaan.

Semestinya ketiga pengertian dalam judul di atas berjenjang turun bertangga naik. Ruang lingkup dan kedudukan kemanusiaan harus lebih luas dan lebih tinggi dari kebangsaan. Demikian pula kebangsaan harus lebih luas dan lebih tinggi dari keetnikan. Inilah yang disebut berjenjang turun. Sebaliknya keetnikan tidak boleh memecah kebangsaan dan demikian pula kebangsaan tidak boleh menginjak-injak kemanusiaan. Inilah yang disebut dengan bertangga naik.

Dalam Dasar Negara Republik Indonesia, Kemanusiaan yang adil dan beradab kedudukaannya lebih tinggi dari Persatuan Indonesia. Nilai kemanusiaan lebih tinggi dari nilai kebangsaan. Kebanggaan berbangsa dan bertanah air Indonesia tidak boleh melampaui batas daerah ruang lingkup nilai kemanusiaan, bahwa bangsa-bangsa di dunia ini bersaudara, bahwa bangsa Indonesia tidak lebih dan tidak kurang dari bangsa lain. Selanjutnya nilai keetnikan diterima sebagai suatu kenyataan. Tetapi bukan keetnikan yang liar, melainkan keetnikan dalam ruang lingkup kebangsaan, Persatuan Indonesia. Nilai keetnikan itu dinyatakan dalam ungkapan: Binneka Tunggal Ika. Yang dalam nilai budaya etnik Makassar a'bulo sibatang, membuluh sebatang. Ruas-ruas dalam sebatang buluh melambangkan etnik yang berbeda-beda, tetapi merupakan sebuah kesatuan dalam sebatang buluh. Atau dalam ungkapan etnik Selayar: a'munte sibatu, melimau sebiji. Biji-biji limau melambangkan etnik-etnik yang berdempet diikat kesatuan oleh kulit limau.

Kalau dalam ketiga cerita di atas itu terjadi pertentangan antara kemanusiaan, kebangsan dan keetnikan, ya itu hanya dalam cerita. Tapi dalam zaman modern ini, pertentangan itu betul-betul dalam kenyataan. Etnik Serbia menginjak-injak kemanusiaan, dan celakanya pula yang menjadi korban keganasan etnik Serbia ini adalah ummat Islam Bosnia-Herzegovina. Hitler, Fuehrer Nazi Jerman, menempatkan kebangsaan di atas kemanusiaan dengan kalimat terkenal: Deutchland ueber alles. Hitler ini menginjak-injak kemanusiaan dan korbannya adalah orang-orang Yahudi yang hidup secara eksklusif, yang mempunyai kebanggaan etnik, yang menganggap etniknya adalah etnik pilihan Tuhan.

Semestinya Yugoslavia (baca: Serbia Monte Negro) tidak perlu diundang untuk menghadiri KTT GNB, yang pada mulanya menyatakan tidak akan ikut KTT GNB, yang dengan tiba-tiba pula kemudian menyatakan akan menghadirinya juga. Alasan bahwa negara ini mempunyai hak diundang karena masih anggota GNB, sebenarnya bertolak dari asumsi yang lemah. Hak itu didapatkan dengan memenuhi kewajiban. Yugoslavia (baca: Serbia- Monte Negro) telah lalai melakukan kewajiban kemanusiaan, itu berarti dia sendiri telah menggugurkan haknya.

Akhirnya ada suatu catatan sejarah yang kiranya sukar untuk dilampaui begitu saja. Yaitu pidato Bung Karno dalam forum Sidang Majelis Umum PBB pada 1 September 1960, yang merupakan picu terbentuknya GNB setahun kemudian. Pidato Bung Karno itu berjudul To build the world anew. Dalam permulaan pidatonya itu Bung Karno mengutip Firman Allah, S. Al Hjuraat, 13:
-- Yaa ayyuhanaas innaa khalaqnaakum min zakarin wa untsaa wa ja'alnaakum syu'uwban wa qabaaila lita'aarafuw inna akramakum 'inda Llaahi atqaakum,....

artinya: Hai manusia, sesungguhnya Kami ciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk saling mengenal. Bahwa sesungghnya yang paling mulia di antaramu ialah mereka yang lebih taqwa,....

S. Al Hjuraat, 13 menjelaskan ansinitas bertangga turun, paling atas nilai Ketaqwaan, turun kebawah nilai Kemanusiaan, turun ke bawah nilai Kebangsaan, turun ke bawah nilai Keetnikan.

Dua hari lagi KTT GNB akan dibuka di Jakarta. Mudah-mudahan Allah berkenan, sehingga membawa manfaat utamanya untuk kemanusiaan. WaLlahu a'lamu bishshawab.

*** Makassar, 30 Agustus 1992 [H.Muh.Nur Abdurrahman]



KUMPULAN TULISAN H.M. NUR ABDURRAHMAN
(Dari Kolom Tetap Harian FAJAR bertajuk "Wahyu dan Akal - Iman dan Ilmu")

Kunjungi juga:

Ada sebuah cerita yang kelihatannya ringan

Ada sebuah cerita yang kelihatannya ringan. Sebuah keluarga yang terdiri atas:  ayah, ibu, seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan, sudah gadis. Dari segi komposisi adalah merupakan keluarga ideal menurut program KB. Namun perlu dicatat, cerita ini sudah lama ada sebelum Indonesia merdeka. Saya mendengar cerita ini dari nenek semasa saya masih kecil. Diceritakan nenek menjelang tidur malam. Keempat anggota keluarga itu semuanya pekak. Artinya tuli betul, sebenar- benarnya tuli. Suatu hari si anak laki-laki sedang menggembalakan kambingnya di pinggir kampung.  Seorang asing liwat. Menanyakan arah jalan yang bercabang dua. Si anak menjawab: "Ini kambing saya, ini kambing bapak saya. Mengapa engkau mengatakan kambing ini milikmu. Awas, tunggu di sini, saya beritahu ibuku di rumah. "Anak itu menghalau kambingnya pulang ke rumah. Masih di tangga si anak berteriak: "Ibu, di pinggir kampung, di luar sana ada orang yang mengaku-ngaku kambing kita ini kambingnya." Dengan suara pasrah si ibu menjawab: "Biarlah nak, kita ini memang orang miskin. Tidak usah marah. Biarkanlah dia mencela celana bapakmu yang penuh dengan tambalan itu." Sepulangnya suaminya dari kebun, belum sempat melangkahkan kaki suaminya masuk rumah, si isteri berucap: "Pak, menurut anak kita ada yang mencela celanamu yang penuh tambalan. Saya katakan, sudahlah nak, tidak usah masukkan di hati, kita ini memang petani miskin." Si suami menjawab: "Haram, kalau saya makan pisang di kebun. Kalau ada yang menyampaikan kepadamu saya ini suka makan pisang secara sembunyi-sembunyi di kebun, itu fitnah." Si gadis di dapur melirik ke depan pintu tempat kedua orang tuanya berdialog. Dia tentu saja hanya mampu melirik, karena tidak sanggup menguping, maklumlah ia pekak. Setelah dialog berakhir, si gadis melompat ke dekat pintu dengan tersedu-sedu ia berkata: "Biarlah mak, biarlah pak, kalau ada yang meminang, jangan ditolak, terima saja."   

***   

Dalam kehidupan kita sehari- sehari tidak jarang kita terlibat dalam hal prasangka. Sikap berprasangka yang dibentuk oleh kepicikan, pandangan sempit, curiga kepada bayangan sendiri. Cerita di atas itu dikarang  oleh nenek moyang kita untuk memberikan potret sekelompok manusia yang bersikap prasangka yang ekstrem. Memang nenek moyang kita, pengarang cerita itu, orang jenius. Keadaan pekak menggambarkan orang yang tidak mau mendengar pendapat orang lain. Yang penting adalah persepsinya sendiri, sangat sukar berkomunikasi dengannya. Sikap prasangka yang ekstrem, yang dibentuk  oleh kondisi kejiwaannya.   

Si anak laki-laki mendapat tugas menggembalakan kambingnya. Tanggung jawabnya itu menyebabkan ia bersikap waspada secara berlebihan. Apapun yang diucapkan atau dilakukan orang ditanggapinya mau meronrong kedudukannya sebagai gembala, mau mengambil, mau merampas kambing itu dari tangannya. Si ibu yang pekerjaan rutinnya menambal celana suaminya mnyebabkan ia dihinggapi penyakit rendah diri, minderwaadigheid complex. Semua tindak-tanduk orang selalu ditafsirkannya mengejek celana suaminya. Si suami yang suka makan pisang secara sembunyi-sembunyi, selalu ibarat mempunyai monyet di punggung.  Rasa kuatir  bahwa isterinya akhir-akhirnya akan tahu juga, selalu mengusik jiwanya. Waktu isterinya melapor bahwa celananya dicela orang, ia menyangka rahasianya sudah terbuka. Yang bungkuk dimakan sarung. Si gadis, adalah gadis pingitan, yang jiwanya selalu meratap, mendambakan orang datang meminang. Seperti diungkapkan oleh Kelong Mangkasara' (pantun Makassar):   

Bosi minne baraqminne, bungaminne campagayya. Inakatte minne, lamaqlonjoq paqrisiqna. Turunlah hujan, musim barat tiba, pohon cempaka berbunga pula. Nasibku memang, selalu dirundung malang.   

Si gadis menanti harap-harap cemas dari tahun ke tahun. Yang ditandai dengan datangnya musim barat, bahkan pohon cempaka sudah berbunga pula. Tetapi selalu dirundung malang, belum ada yang datang meminang. Maka oleh pembicaraan ibu dengan bapaknya dekat pintu, begitu serius dilihatnya, timbullah prasangkanya: telah ada yang datang meminang.   

Sikap prasangka ini tidak terkecuali, juga subur bertumbuh dalam politik tingkat tinggi. Rezim militer Aljazair, ibarat anak pekak yang menggembala kambing itu. Selalu diusik oleh kekuatiran kambingnya diambil orang, lalu berprasangka. Golongan Islam yang membentuk kekuatan politik, yang menempuh cara demokratis, menjadi salah satu kontestan dalam pemilihan umum, dicap fundamentalis. Sebenarnya istilah fundamentalis ini pengertiannya baik-baik saja.  Tetapi dalam lapangan politik internasional istilah ini sudah mempunyai konotasi yang khas, suka menempuh cara kekerasan. Kalaupun pada akhirnya kelompok ini terlibat dalam kekerasan dan pertumpahan darah, itu karena lebih dahulu dikerasi dan dizalimi oleh rezim militer: pemilu lanjutan dibatalkan, partainya disudutkan untuk mendapatkan alasan pembubaran dan akhirnya memang dibubarkan oleh rezim militer. Nah kalau mereka akhirnya terpaksa terlibat dalam tindak kekerasan dan pertumpahan darah, semutpun kalau diinjak, niscaya menggigit.   

Amerika Serikat yang begitu menggemborkan dirinya pahlawan demokrasi, bungkam, bahkan bersikap menyokong rezim militer Aljazair, yang mentorpedo hasil dan proses pemilihan umum itu. Mengapa? Amerika sedang risau, Iran potensial bakal menggantikan kedudukan mantan Uni Sovyet untuk menantang, menjadi rival Amerika. Ambisi Amerika untuk menjadi negara adidaya tunggal, menjadi polisi dunia, bakal mendapat hambatan, gangguan, bahkan ancaman dari Iran. Ini membentuk sikap Amerika berprasangka kepada setiap gerakan Islam, tidak terkecuali di Aljazair.   

Nah, itulah semua sikap prasangka politik tingkat tinggi yang mengglobal. Tidak ada bedanya dengan anak pekak yang selalu diusik oleh kekuatiran kambingnya diambil orang, seperti cerita nenek menjelang tidur di atas itu. Adapun tentang hal sikap berprasangka yang disebabkan oleh rasa rendah diri si ibu, oleh rasa ada monyet di punggung si ayah dan oleh rasa cemas si gadis, pembaca dapat memperkembang sendiri, sebab ruangan ini terbatas untuk itu.   

Marilah kita tutup pembahasan ini dengan Firman Allah dalam Al Quran, S.Banie Israil, ayat 36: Wa laa taqfu ma laysa laka bihi- 'ilmun, inna ssam'a walbashara, walfuada, kullu ulaaika kaana 'anhu mas.uwlan, artinya: Dan janganlah engkau memperturutkan (prasangka) yang engkau tidak tahu seluk- beluknya, karena sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan rasio, kesemuaya itu akan dipermasalahkan (oleh Allah SWT di Hari Pengadilan). Ya-ayyuha lladziyna a- manu jtanibuw katsiyran mina zhzhanni inna ba'dha zhzhanni itsmun (s. alhujuraat, 12), artinya: Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa (49:12).  WaLlahu a'lamu bishshawab.   

*** Makassar, 12 Juli 1992     [H.Muh.Nur Abdurrahman]



KUMPULAN TULISAN H.M. NUR ABDURRAHMAN
(Dari Kolom Tetap Harian FAJAR bertajuk "Wahyu dan Akal - Iman dan Ilmu")

Kunjungi juga:

Potret Sains Sekuler

Dalam Seri 005 yang lalu telah dibicarakan tentang sains yang tidak otonom, karena sains itu dalam kenyataannya telah memihak kepada golongan yang tidak mau tentang Tuhan, sehingga pada hakekatnya sains itu tidaklah bebas nilai. Dan dalam Seri 006 sains itu didefinisikan atau diartikan di atas paradigma tawhid (monotheisme yang percaya akan wahyu), maka dalam seri ini sains sekuler yang bertumpu di atas faham filsafat positivisme akan disajikan potretnya. 

Pertama-tama sains atau ilmu pengetahuan eksperimental itu, walaupun diberi predikat eksperimental, tidaklah mampu untuk memberikan informasi berupa realitas. Ambillah misalnya Ilmu falak/astronomi, fisika, ilmu kimia, biologi, kesemuanya itu tidaklah memberikan informasi tentang realitas. Semua TaqdiruLlah, atau istilah sekulernya hukum alam, yang dapat diungkapkan melalui ilmu-ilmu tersebut di atas hanyalah generalisasi yang dibatasi oleh aproksimasi. (Perlu dijelaskan mengenai istilah ini, oleh karena dalam bahasa Indonesia istilah "pendekatan" mempunyai dua arti: approach dan approximation, maka untuk pengertian approach dipakai istilah pendekatan, sedangkan untuk pengertian approximation dipakai istilah aproksimasi). 

Lintasan bumi mengelilingi matahari adalah elips. Namun karena jarak di antara kedua titik api elips itu kecil dibandingkan dengan ukuran lintasan, maka dianggap saja satu titik Dengan anggapan ini maka elips itu sudah menjadi lingkaran. Jadi lintasan bumi mengelilingi matahari suatu lingkaran, itu adalah aproksimasi, yaitu mengabaikan beberapa kondisi tertentu. Contoh lain yang paling mudah, di dalam ilmu permesinan, ataupun juga sipil, harga percepatan gravitasi di ambil harga aproksimasi, yaitu g = 9,8 m/det2. Aproksimasi yang terjadi di sini ada dua jenis, yaitu kwantitas dan kwalitas. Kwantitas berupa pembulatan angka dan kwalitas berupa anggapan bahwa bumi ini bulat sebagai bola. Artinya bentuk bumi yang sebenarnya yang bukan bola diabaikan. 

Contoh yang lain ialah TaqdiruLlah yang diungkapkan oleh Newton, yaitu gaya tarik menarik di antara dua benda berbanding lurus dengan massa kedua benda itu dan berbanding terbalik dengan kwadrat dari jarak kedua benda itu. Ini generalisasi yang dibatasi oleh aproksimasi. Yaitu Rumus Newton itu tidak berlaku bagi kedua benda Mercurius dan matahari. Sebenarnya di bumi kita ini Rumus Newton itu ada juga penyimpangan tetapi sangat kecil, jadi diabaikan. Maka para pakar di bidang mesin dan sipil dan juga elektro dapat berbesar hati dengan masih dapat mempergunakan Rumus Newton yang sederhana itu dalam fasal hitung menghitung, mendisain (merancang-bangun), merekayasa. Lebih lanjut, Teori Relativitas Umum Einstein sebagai koreksi atau penghalusan Rumus Newton, juga generalisasi yang dibatasi oleh aproksimasi. Dalam kalkulasi tensor Einstein, space-time continum (ruang waktu yang kontinu), ia mengambil model bola berdimensi empat. Mengapa bola, bukan elipsoide, atau pelana kuda, ya, karena bola itu lebih sederhana ketimbang dengan elipsoide ataupun pelana kuda yang ruwet/complicated. Dalam batas yang sangat kecil permukaan elipsoide ataupun permukaan pelana kuda dapat dianggap sama dengan permukaan bola. 

Yang kedua, setiap ilmu pengetahuan, jadi bukan hanya sains, yang ilmu pengetahuan eksperimental itu, potretnya seperti berikut: Orde/taraf yang lebih rendah menjelaskan fenomena yang lebih tinggi ordenya. Etika diangkat dari pertanyaan kemanfaatan dan tabiat. Kita semua tahu bahwa kemanfaatan dan tabiat itu lebih rendah ordenya dari etika. Politik ekonomi mengabaikan permasalahan tentang keadilan, solidaritas, dan dibangun di atas landasan yang jauh lebih rendah ordenya, yaitu kebutuhan individu. Dalam biologi, ilmu tentang hidup, dikesampingkan sama sekali hal yang sangat esensial bagi hidup dan kehidupan, yaitu kepribadian, kesadaran. Ilmu biologi, ilmu tentang hidup ini hanya dan juga dibangun atas landasan yang rendah ordenya, seperti gerak reflex, ikatan kimiawi sampai kepada protoplasma dan osmose. Demikian pula fisika dan kimia dibangun di atas landasan yang lebih rendah ordenya, yaitu molekul, atom, nukleon, elektron dll. Ilmu falak di reduksi menjadi gerak benda-benda langit dan hukum-hukum mekanika. Semua contoh yang diberikan itu menunjukkan orde lebih rendah menjelaskan orde lebih tinggi, bahkan ada orde lebih tinggi yang dikesampingkan. 

Alhasil, kesimpulan yang dapat ditarik dari potret itu adalah demikian: Generalisasi, aproksimasi kwantitatif dan kwalitatif, orde lebih rendah menjelaskan orde lebih tinggi tidak mampu untuk menjelasakan realitas. Kebenaran ataupun realitas tidak mampu dicapai atas usaha manusia. Kebenaran ataupun realitas itu diturunkan dari Allah oleh Allah kepada manusia melalui wahyu dengan perantaraan para Rasul. Al Haqqu min Rabbika (S.Ali 'Imran 60), kebenaran itu dari Tuhanmu Yang Maha Pengatur. 

Ini adalah sekadar sumbangan pemikiran yang perlu direnungkan dalam menyambut Pameran Riset dan Teknologi. Sekadar kesimpulan dari suatu potret. WaLlahu a'lamu bishshawab. 

*** Makassar, 24 Mei 1992 [H.Muh.Nur Abdurrahman]



KUMPULAN TULISAN H.M. NUR ABDURRAHMAN
(Dari Kolom Tetap Harian FAJAR bertajuk "Wahyu dan Akal - Iman dan Ilmu")

Kunjungi juga:

Pakar Yunani Kuno vs Pakar Muslim di Bidang Ilmu-Ilmu Eksakta

Matematika bangsa Yunani Kuno terbentuk dari bahan-bahan tradisi bangsa-bangsa Sumaria, Babilonia dan Mesir Kuno, demikian pula halnya Ilmu Pengetahuan Alam/sains, yang asasnya hanya pada observasi saja. Ilmu Ukur diperkembang oleh pakar Yunani Kuno secara sistematis, dan mencapai puncak kemajuannya dalam zaman Euclid. Namun dalam bidang matematika yang lain yaitu ilmuhitung, tidak memperolah kemajuan. Tidak ada pertambahan operasi, tetap hanya menambah, mengurang, mengali dan membagi saja. Dengan demikian mereka itu hanya tetap berkisar dalam bilangan rasional saja. Hal ini membawa akibat yang parah, ilmu hitung tidak dapat mengikuti perkembangan ilmu ukur, sehingga ilmu ukur itu berjalan sendiri tanpa dukungan ilmu hitung. Ada beberapa bagian dari Dialogue Plato (427 - 347 Seb.Miladiyah) yang menunjukkan pemisahan itu mencapai puncaknya, artinya keduanya sudah terpisah sama sekali dalam zaman Euclid. 

Alhasil matematika di tangan bangsa Yunani Kuno pecah dua dalam pengertian yang sebenar-benarnya. Ilmu ukur maju melesat ke depan meninggalkan ilmu hitung jauh di belakang. Dengan demikian matematika di zaman Yunani kuno tidak mungkin dapat dipakai untuk menunjang sains/ilmu pengetahuan alam dalam hal mengujicoba hasil penafsiran alam, sehingga sains hanya terpaku pada teori yang sifatnya spekulatif. Maka asas Pendekatan Ilmiyah di zaman Yunani Kuno terhenti hanya sampai penafsiran saja sebagai tahap lanjut dari observasi. 

*** 

Para Pakar Muslim kuno di zaman keemasan Islam (abad 7 sampai abad 13 Miladiyah) berhasil memperkembang ilmu ukur menjadi ilmu ukur sudut dan ilmu ukur bola seperti yang kita kenal sekaang ini. Al Battani (858 - 929) mengganti busur dengan sinus, mempergunakan tangen dan kotangen. Abu 'lWafa (940 - 997) mendapatkan metode baru untuk membuat tabel sinus, memperkenalkan sekan dan kosekan. Operasi dalam ilmu hitung diperlengkap dengan operasi akar dan logaritme sebagai lawan pangkat. Dengan demikian ruang lingkup bilangan menjadi lebih luas, yaitu bilangan irrasional dan imajiner. Kata-kata logaritme dan algorism berasal dari nama orang yang mendapatkannya yaitu Al Khawarismi (780 - 850). Di tangan para pakar Muslim itu cabang-cabang matematika yaitu itu ilmu hitung dan ilmu ukur diperkembang kemudian dijalin menjadi utuh tidak terlepas seperti dalam keadaannya di tangan para pakar Yunani Kuno tersebut. Maka menjadilah matematika itu sebagai disiplin ilmu yang menunjang metode ujicoba dalam sains. Alhasil kebudayaan Islam (maksudnya kebudayaan yang diisi oleh nilai-nilai non-historis, yaitu wahyu) dapat menyumbangkan metode ujicoba yang memungkinkan lahirnya Ilmu Pengetahuan seperti yang kita miliki sekarang ini. 

Yang ideal bagi orang-orang Yunani Kuno adalah keindahan visual. Inilah yang menjadi landasan ideologi mereka. Keindahan yang berasaskan perbandingan yang dinyatakan oleh hubungan angka-angka yang tetap. Wajah manusia, patung, atau bentuk arsitektur, bahkan drama harus mempunyai perbandingan-perbandingan tetap di antara bagian-bagiannya supaya indah. Keluar dari hubungan angka-angka perbandingan itu mengakibatkan sesuatu itu "rusak" bentuknya sehingga tidak menjadi indah lagi. Pola pemikiran ini menghasilkan pandangan bahwa alam semesta ini merupakan kesatuan yang statis, oleh karena bagian-bagian dari alam smesta ini harus mempunyai perbandingan yang dinyatakan oleh hubungan angka-angka yang tetap. Alhasil, pengertian waktu bukanlah hal yang perlu mendapat perhatian, oleh karena alam semesta ini statis. Bahkan menurut Zeno dan Plato waktu adalah sesuatu yang tidak-nyata (unreal). Maka dapatlah kita mengerti apabila para pakar Yunani Kuno hanya menghasilkan matematika yang statis sifatnya, tidak mengandung unsur variabel dan fungsi. Demikianlah idea orang Yunani Kuno yang menganggap ideal keindahan visual, hanya dapat menghasilkan matematika yang statis. 

Yang ideal bagi seorang Muslim bukanlah keindahan visual, melainkan Yang Tak Terbatas, yaitu Allah SWT dengan sifat-sifatnya yang Maha Sempurna. Pakar-pakar Muslim dituntun oleh akar yang non historis, yakni wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, yaitu Al Quran. Dalam S. Al Fathihah Allah disebut Rabbul'alamien, Maha Pengatur alam semesta. Dengan demikian alam semesta ini tidak statis, melainkan dinamis. Dan unsur penting dalam dinamika ialah waktu. Jadi menurut pandangan seorang Muslim waktu itu riel, tidak seperti pandangan Zeno dan Plato di atas itu. Bahkan dalam Al Quran ada sebuah surah yang bernama S. Al 'Ashr. Surah ini dibuka dengan kalimah wa-l'Ashri, yang artinya perhatikanlah waktu. 

Masuknya faktor waktu dalam matematika, mengubah wajah matematika itu menjadi baru sama sekali. Ilmu hitung diperkembang menjadi aljabar. Unsur ilmu hitung yang statis yaitu bilangan, diperkaya dengan unsur yang dinamis yaitu variabel dan fungsi. Dalam matematika ada dua cara dalam menyatakan fungsi. Pertama yang langsung y(x), yang kedua melalui parameter waktu x(t), y(t), yang ditampilkan oleh Al Biruni (793 - 1048). Umar Khayyam menciptakan pula sejenis matematika yang disebutnya dengan al khiyam, sayang ilmu itu tidak berkembang hingga dewasa ini. 

Kesimpulannya dapatlah kita lihat pakar Yunani Kuno tidak mampu mengembangkan matematika untuk dapat dipakai sebagai disiplin ilmu dalam hal menunjang metode ujicoba dalam sains. Para pakar Muslim Kuno telah berhasil memperkembang matematika, sehingga dapatlah matematika itu dijadikan disiplin ilmu yang dapat menunjang metode ujicoba dalam sains, sehingga sains dapat mencapai wujudnya yang sekarang ini, yaitu observasi, penafsiran observasi yang menghasilkan teori yang spekulatif kemudian dengan unsur ujicoba yang menyaring teori yang spekulatif itu sehingga tidak spekulatif lagi. WaLlahu a'lamu bisshawab 

*** Makassar, 1 Maret 1992 [H.uh.Nur Abdurrahman]



KUMPULAN TULISAN H.M. NUR ABDURRAHMAN
(Dari Kolom Tetap Harian FAJAR bertajuk "Wahyu dan Akal - Iman dan Ilmu")

Kunjungi juga:

Surah Al Anfaal 25 dan Hadits Safinah tentang BICS

Syahdan, tersebutlah sebuah kisah nyata yang terjadi pada sebuah proyek pembangunan sebuah pabrik yang berlokasi di Arasoe tidak jauh dari sebelah selatan Watampone ibu kota kabuten dengan nama yang sama. Pada waktu terjadinya kisah ini jalan raya belum mulus beraspal, melainkan masih berlubang-lubang. Dan bila musin hujan, kerbau mempunyai fasilitas untuk berkubang di dalamnya. Sudah hal yang lumrah, oto yang bermuatan lebih akan mengalami patah pegas. Dan itulah yang menimpa nasib kendaraan proyek yang akan ke ibu kota. Fasalnya ialah kendaraan beroda empat itu selamanya melebihi jumlah yang tercantum dalam (S)urat (P)erintah (J)alan, oleh karena selalu dicegat oleh ibu-ibu para isteri staf pegawai proyek. Dan tentu saja sang sopir tidak berani melarang nyonya-nyonya itu untuk naik. Perlu dijelaskan bahwa di lokasi proyek/pabrik telah lebih dahulu dibangun perumahan yang memadai bagi para pegawai staf proyek, sehingga mereka dapat memboyong anak isterinya ke lokasi.

Saya sebagai dosen mata ajaran management Fakultas Teknik Unhas diperbantukan di proyek itu untuk menanggulangi peralatan mesin-mesin yang terbengkalai, agar tidak menjadi besi tua. Fasalnya adalah proyek itu di bangun pada zaman Orde Lama yang waktu itu banting stir ke kiri. Setelah pemberontakan komunis Gestapu, terbengkalailah hubungan dengan negara tempat asal peralatan proyek itu. Maka peralatan mesin-mesin itu terancam menjadi besi tua. Saya berdyukur mendapat kesempatan untuk mempratekkan management Islami di lapangan.

Saya sarankan kepada Ir Abd Rasyid yang kepala proyek untuk mengatasi masalah kelebihan muatan, akibat keterlibatan nyonya-nyonya yang akan pergi shopping itu di ibu kota kabupaten. Saran saya supaya diterapkan S. Al Anfaal 25 dengan ilustrasi Hadits safinah. Sudah tentu kepala proyek tidak mengerti saran itu.

Maka saya informasikan sebagai berikut. Surah Al Anfaal 25 berbunyi demikian: Wattaquw fitnatan laa tushiebanna-lladziena zhalamuw minkum chaashshah, artinya peliharalah dirimu dari bencana yang ditimpakan tidak hanya khusus kepada orang-orang yang zalim di antara kamu sekalian. Adapun ilustrasinya seperti yang disabdakan Nabi Muhammad SAW dalam Hadits mengenai safinah (kapal atau perahu) adalah seperti berikut: Nabi mengibaratkan kita ini menumpang sebuah kapal dengan tempatnya masing-masing. Ada di geladak, ada di ruang bawah. Apabila yang di bagian ruang bawah ingin mendapatkan air haruslah menempuh tata-cara yang sudah digariskan. Naik dahulu ke geladak, kemudian menimba air, lalu turun lagi ke bawah di tempatnya semula. Apabila yang bersangkutan ingin cepat mendapatkan air, yang dikiranya itu adalah akselerasi modernisasi, ia akan menempuh terobosan baru. Dengan melubangi dinding kapal, ia serta merta akan mendapatkan air, tanpa susah-susah mengikuti posedur yang dilazimkan. Apabila ada seorang penumpang lain memegang tangan orang itu sebelum sempat membuat lubang, maka demikian sabda Nabi, si pencegah ini telah bertindak menyelamatkan dirinya, menyelamatkan si pembuat terobosan baru, bahkan telah menyelamatkan seluruh penumpang dan isi kapal dari bencana terkubur di dalam laut. Demikianlah ilustrasi menurut Hadits safinah tersebut.

Setelah mendengarkan informasi itu, serta merta Ir Abd.Rasyid berucap, oh itukan Built In Control System. Maka diterapkanlah prinsip BICS itu. Dibuatlah ketentuan, apabila sopir melihat interfensi nyonya-nyonya yang akan menyebabkan muatan melebihi seperti yang tercantum di atas SPJ, sopir dengan segera mengembalikan oto ke garage. Uang jalan sopir tetap dibayarkan walaupun tidak jadi berangkat. Jadi sopir yang tidak berani melarang itu tidak usah melarang. Kembali ke garage berarti mendapatkan tambahan upah tanpa pergi meninggalkan lokasi. Enak buat sopir.

Apa yang terjadi sesudah itu? Penumpang-penumpang yang sah menurut SPJ dengan serentak dan serempak melarang penumpang-penumpang yang tidak sah ikut naik. "Maaf ibu-ibu silakan jangan naik, sebab kalau ibu-ibu berpartisipasi naik ke oto, kami ini tidak jadi berangkat." Maka terjadilah BICS, karena semua penumpang merasa berkepentingan melakukan aksi kontrol, berhubung menyangkut kepentingan diri mereka masing-masing.

Maka demikianlah adanya. S. Al Anfaal 25 dengan ilustrasinya Hadits safinah terasa lebih asing bagi kebanyakan ummat Islam ketimbang BICS. Artinya milik sendiri kurang banyak dikenal ketimbang milik yang dipinjam dari orang lain. WaLlahu a'lamu bisshawab.

*** Makassar, 22 Desember 1991 [H.Muh.Nur Abdurrahman]



KUMPULAN TULISAN H.M. NUR ABDURRAHMAN
(Dari Kolom Tetap Harian FAJAR bertajuk "Wahyu dan Akal - Iman dan Ilmu")

Kunjungi juga: