Selasa, 28 Juli 2015

TINGKATAN QADHA’ DAN QADAR

Bagian 14:

Menurut Ahlussunnah Wal Jamaah, qadha’ dan
qadar mempunyai empat tingkatan:
Pertama: Al-‘Ilm (pengetahuan)
Artinya: mengimani dan meyakini bahwa Allah
 Maha Tahu atas segala sesuatu. Dia mengetahui apa
yang ada di langit dan di bumi, secara umum maupun
terperinci, baik itu termasuk perbuatan-Nya sendiri atau
perbuatan makhluk-Nya. Tak ada sesuatupun yang
tersembunyi bagi-Nya.
Kedua: Al-kitabah (penulisan)
Artinya: mengimani bahwa Allah  telah
menuliskan ketetapan segala sesuatu dalam lauh
mahfuzh.
Kedua tingkatan ini sama-sama dijelaskan oleh
Allah  dalam firman-Nya:

“Apakah kamu tidak mengetahui bahwa
sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di
langit dan di bumi; bahwasanya yang demikian itu
terdapat dalam sebuah kitab (lauh mahfuzh).
sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi
Allah”. (Al- Hajj:70).
Dalam ayat ini disebutkan lebih dahulu bahwa
Allah  mengetahui apa saja yang ada di langit dan di
bumi, kemudian dikatakan bahwa yang demikian itu
tertulis dalam sebuah kitab lauh mahfuzh.
Sebagaimana dijelaskan pula oleh Rasulullah 
dalam sabdanya:“ Pertama kali tatkala Allah 
menciptakan qalam (pena), Dia firmankan kepadanya:
tulislah!. Qalam itu berkata: ya Tuhanku, apakah yang
hendak kutulis? Allah  berfirman: Tulislah apa saja
yang akan terjadi! maka seketika itu bergeraklah qalam
itu menulis segala sesuatu yang akan terjadi hingga hari
kiamat”.
Ketika Nabi Muhammad  ditanya tentang apa
yang hendak kita perbuat, apakah sudah ditetapkan atau
tidak ? beliau menjawab: “ sudah ditetapkan”.
Dan ketika beliau ditanya: “mengapa kita mesti
beramal dan tidak pasrah saja dengan takdir yang sudah
tertulis? beliapun menjawab: “beramallah kalian, masingmasing
akan dimudahkan menurut takdir yang telah
ditentukan baginya”. Kemudian beliau membaca firman
Allah:

“Adapun orang yang memberikan hartanya (di
jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya
pahala yang terbaik, maka Kami akan memudahkan
baginya (jalan) yang mudah. Sedangkan orang yang
bakhil dan merasa dirinya cukup serta mendustakan
adanya pahala yang terbaik, maka Kami akan
memudahkan baginya (jalan) yang sukar”.( Al Lail: 5 –
10).
Oleh karena itu hendaklah anda berusaha,
sebagaimana yang diperintahkan Nabi Muhammad 
kepada para sahabat. "Anda akan di mudahkan menurut
takdir yang telah ditentukan Allah ".

Sponsor link:


1 komentar: