Sekarang kalau semuanya kembali kepada
kehendak Allah dan segalanya berada di Tangan Allah,
lalu apakah jalan dan upaya yang akan ditempuh
seseorang apabila dia telah ditakdirkan Allah tersesat dan
tidak dapat petunjuk?
Jawabnya: bahwa Allah menunjuki orangorang
yang patut mendapat petunjuk dan menyesatkan
orang-orang yang patut menjadi sesat. Firman Allah:
“Maka tatkala mereka berpaling (dari
kebenaran) Allah memalingkan hati mereka; dan Allah
tiada memberi petunjuk kepada kaum yang fasik”.( Ash
Shaf: 5).
“(Tetapi ) karena mereka melanggar janjinya,
Kami kutuk mereka dan Kami jadikan hati mereka keras
membatu, mereka suka merobah perkataan (Allah) dari
tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan
sebahagian dari apa yang mereka yang telah diberi
peringatan dengannya” (Al Ma’idah: 13).
Di sini Allah menjelaskan bahwa Dia tidak
menyesatkan orang yang sesat kecuali disebabkan oleh
dirinya sendiri. Dan sebagaimana telah kami terangkan
tadi bahwa manusia tidak dapat mengetahui apa yang
telah ditakdirkan oleh Allah untuk dirinya. Karena dia
tidak mengetahui takdirnya kecuali apabila sudah terjadi,
maka dia tidak tahu apakah dia ditakdirkan Allah menjadi
orang yang tersesat atau menjadi orang yang mendapat
petunjuk.
Kalau begitu, mengapa jika seseorang menempuh
jalan kesesatan lalu berdalih bahwa Allah telah
menghendakinya demikian? Apa tidak lebih patut
baginya menempuh jalan kebenaran kemudian
mengatakan bahwa Allah telah menunjukkan
kepadaku jalan kebenaran?
Pantaskah dia menjadi orang yang jabri kalau
tersesat dan qadari(1) kalau berbuat kebaikan?
Sungguh tak pantas seseorang menjadi jabri
ketika berada dalam kesesatan dan kemaksiatan, kalau ia
tersesat atau berbuat maksiat kepada Allah ia
mengatakan: “ini sudah takdirku, dan tak mungkin aku
dapat keluar dari ketentuan dan takdir Allah”; tetapi
ketika berada dalam ketaatan dan memperoleh taufiq dari
Allah untuk berbuat ketaatan dan kebaikan ia
mengatakan: “ini kuperoleh dari diriku sendiri”. Dengan
demikian ia menjadi qadari dalam segi ketaatan dan
menjadi jabri dalam segi kemaksiatan.
Sponsor link:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar