Jika anda mau berusaha untuk mencari rizki dan
untuk mempertahankan kelangsungan kehidupan anda,
sehingga kalau anda sakit, pergi kemanapun mencari
dokter ahli untuk mengobati penyakit anda, padahal anda
tahu kalau ajal telah ditentukan, tidak akan dapat
bertambah dan tidak berkurang. Anda tidak bersikap
pasrah sambil berkata: “sudahlah aku tetap tinggal di
rumah saja meski menderita sakit, karena kalaupun aku di
takdirkan panjang umur aku akan tetap hidup”. Bahkan
anda berusaha sekuat tenaga untuk mencari dokter yang
ahli, yang sekiranya dapat menyembuhkan penyakit anda
dengan takdir Allah. Jika demikian, mengapa usaha anda
di jalan akhirat dan dalam amal shaleh tidak seperti usaha
anda untuk kepentingan duniawi?
Sebagaimana telah aku kemukakan bahwa
masalah qadar adalah rahasia Allah yang tersembunyi,
tak mungkin anda dapat mengetahuinya. Sekarang anda
di antara dua jalan: jalan yang membawa anda kepada
keselamatan, kebahagiaan, kedamaian dan kemuliaan;
dan jalan yang dapat membawa anda kepada kehancuran,
penyesalan, dan kehinaan. Sekarang anda sedang berdiri
di antara ujung kedua jalan tersebut dan bebas untuk
memilih, tak ada seorangpun yang akan merintangi anda
untuk melalui jalan yang kanan atau jalan yang kiri. Anda
dapat pergi kemanapun sesuka hati anda. Lalu mengapa
anda memilih jalan kiri (sesat) kemudian berdalih bahwa
"itu sudah takdirku”? apa tidak lebih patut jika anda
memilih jalan kanan dan mengatakan bahwa “itu
takdirku” ?
Untuk lebih jelasnya, apabila anda mau
bepergian ke suatu tempat dan dihadapan anda ada dua
jalan. Yang satu mulus, lebih pendek dan lebih aman;
sedang yang kedua rusak, lebih panjang dan mengerikan.
Tentu saja anda akan memilih jalan yang mulus, yang
lebih pendek dan lebih aman, tidak memilih jalan yang
tidak mulus, tidak pendek dan tidak aman. Ini berkenaan
dengan jalan yang visual, begitu juga dengan yang non
visual, sama saja dan tidak ada bedanya. Namun kadangkala
hawa nafsulah yang berperan dan menguasai akal.
Padahal, sebagai seorang mu’min seyogyanya akalnyalah
yang harus lebih berperan dan menguasai hawa nafsunya.
Jika orang menggunakan akalnya, maka akal itu menurut
pengertian yang sebenarnya akan melindungi pemiliknya
dari yang membahayakan dan membawanya kepada yang
bermanfaat dan membahagiakan.
Sponsor link:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar