Senin, 27 Juli 2015

QADHA DAN QADAR Syekh Utsaimin

Bagian 11:

Ini tidak dibenarkan sama sekali, sebab
sebenarnya manusia mempunyai kehendak dan
kemampuan.
Masalah hidayah persis seperti masalah rizki dan
menuntut ilmu. Sebagaimana kita semua tahu bahwa
manusia telah ditentukan untuknya rizki yang menjadi
bagiannya. Namun demikian dia tetap berusaha untuk
mencari rizki ke sana dan kemari; baik di daerahnya
sendiri atau di luar daerahnya. Tidak duduk di rumah saja
seraya berkata: “kalau sudah ditakdirkan untukku rizkiku
tentu ia akan datang dengan sendirinya”. Bahkan dia akan
berusaha untuk mencari rizki tersebut. Padahal rizki ini
disebutkan bersamaan dengan amal perbuatan,
sebagaimana di sebutkan dalam hadits Nabi  yang
diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud : “Sesungguhnya
kalian ini dihimpunkan kejadiannya dalam perut ibu
selama empat puluh hari berupa air mani, kemudian
berubah menjadi segumpal darah selama empat puluh
hari pula, kemudian berubah menjadi segumpal daging
selama empat puluh hari pula, lalu Allah mengutus
seorang malaikat yang diberi tugas untuk mencatat empat
perkara, yaitu rizkinya, ajalnya, amal perbuatannya dan
apakah ia termasuk orang celaka atau bahagia”.
Jadi rizki inipun telah tercatat seperti halnya amal
perbuatan, baik ataupun buruk, juga telah tercatat.
Kalau begitu, mengapa anda pergi kesana dan
kemari untuk mencari rizki dunia tetapi tidak berbuat
kebaikan untuk mencari rizki akhirat dan mendapatkan
kebahagiaan surga? padahal kedua-duanya adalah sama,
tidak ada perbedaannya.

Sponsor link:


Tidak ada komentar:

Posting Komentar