Lakon tak istiqomah sangat nyata di
kalangan NU, baik yang tua maupun yang muda. Namun, antara ucapan dan lakon,
sering-sering berbeda. Ucapannya berupa keluhan. Misalnya, KH Yusuf Hasyim
mengatakan, di masa Orde Baru, kaum Nahdliyin/ NU ditindas. Keluhan itu mari
dibuktikan. Demikian pula Noer Iskandar sampai sehabis-habisnya mengecam Golkar
(tulisan ini sama sekali bukan karena membela Golkar, tetapi hanya untuk
membuktikan antara ucapan dan kenyataan) seperti tersebut di atas, padahal dia
sendiri yang sampai mengatakan untuk mengharapkan Presiden Soeharto pemimpin
Orde Baru ke pesantrennya, maka dia adakan istighotsah (arti asalnya
minta tolong atau berdo’a. Nabi pernah istighotsah, minta tolong kepada
Allah SWT waktu perang Badr, namun sendirian. Tidak mengadakan upacara
istighotsah. Sedang Istighotsah model NU atau model shufi/ orang
tasawuf itu berupa upacara dengan do’a-do’a dan shalawat yang belum tentu
shahih/ benar secara syar’i, sedang mengadakan upacaranya itu sendiri tidak ada
contohnya dari Nabi saw. Hingga upacara istighotsah itu hanyalah bikinan
manusia.
Dalam hal beribadah atau mendekatkan diri kepada Allah, kalau dibikin
satu tatacara yang asalnya tidak ada tuntunan upacara seperti itu, maka hukumnya
bid’ah, dan setiap bid’ah itu adalah sesat. Upacara bid’ah itu sering ditambah
kesalahan lain lagi, misalnya dilakukan di jalanan atau tempat umum sehingga
mengganggu kepentingan umum. Itu salahnya dua, sudah bid’ah, masih mengganggu
lagi. Dan apabila tujuannya salah pula, misalnya hanya untuk mendukung
pimpinannya, misalnya mendukung Gus Dur yang landasannya hanya karena
ashobiyah/ fanatik golongan, maka salah lagi. Hingga bertumpuk-tumpuk
salahnya. Tambahan lagi, menipu pula kepada orang-orang kecil, dikerahkan untuk
kepentingan si penggede itu sendiri, maka salah lagi.). Demikian pula, Noer
Iskandar lah yang mengarak sekian ulama untuk ramai-ramai ke rumah Soeharto
untuk menyerahkan sumbangan berupa emas sekian kilogram, katanya untuk
menanggulangi krisis moneter menjelang kejatuhan Soeharto dari kursi
kepresidenan 1998.
Semua yang dilakukan itu sia-sia, mubadzir, dan masih
pula menodai atau paling kurang menyelewengkan kemurnian agama. Jadi bukan hanya
merugikan ummat, namun merugikan pula bagi da’wah tegaknya agama Islam. Anehnya,
mereka itu mengaku mengikuti jejak-jejak Imam Madzhab. Padahal, Imam madzhab
sama sekali tidak ada satupun yang memberi petunjuk seperti itu. Di akherat
nanti insya Allah para Imam Madzhab bisa dijadikan saksi atas
kebohongan-kebohongan dan aneka penyimpangan yang dilakukan pengaku-ngaku
bermadzhabkan kepada Imam Madzhab itu. Dari pendiri jam’iyah, pengurus, penerus
dan orang-orang yang bertanggung jawab atas lestarinya penyelewengan yang
didukung oleh jam’iyah dan pengurusnya, maka akan dihadapkan kepada mahkamah
Allah. Mereka akan dituntut pula oleh Imam Madzhab yang mereka jadikan
tameng.
Di dunia mereka sudah tidak terhormat karena aneka
lakon yang mengatasnamakan agama namun menyimpang dari aturan agama yang benar,
sedang di akherat insya Allah masih akan dituntut untuk mempertanggung jawabkan
aneka penyimpangan yang menyangkut agama. Padahal, menyimpangkan atau bahkan
mengatas namakan agama namun sebenarnya punya tujuan lain dan tak sesuai dengan
Islam, itu hukumannya jauh lebih berat ketimbang sekadar lalai dari suruhan
agama namun masih tetap mengakui benarnya suruhan itu, tanpa menyelewengkannya,
tanpa menungganginya dan sebagainya.
Dalam kasus ini, penyimpangan,
penyelewengan, bahkan penunggangan agama untuk kepentingan ashobiyah,
bukan kepentingan untuk meninggikan kalimah Allah itu justru diorganisir dan
digerakkan oleh para elitnya secara sistematis. Sehingga agama itu sendiri
dikorbankan untuk kepentingan ashobiyah. Ini lebih buruk pula dibanding
ashobiyah itu sendiri. Padahal, ashobiyah itu sendiri (tanpa
menunggangi Islam) pun sudah merupakan keburukan yang sangat diberantas oleh
Islam, karena termasuk faham dan perangkat utama jahiliyah. Maka pantaslah
kalau dari kelompok ashobiyah ini sampai ada Kiyai yang memprovokasi untuk
membunuh tokoh mukmin. Karena memang ayat-ayat Al-Qur’an, dan hadits-hadits Nabi
saw tidak digubris lagi oleh Kiyai ashobiyah. Ajaran ashobiyahnya
baik itu bid’ah-bid’ah maupun sampai dengan khurofat dan aneka penyelewengan,
lebih dipentingkan daripada Al-Qur’an. Hingga dalam berfatwa resmi lewat
muktamar pun pegangan mereka bukan Al-Qur’an ataupun Al-Hadits, namun cukup
kitab-kitab yang mereka anggap mu’tabaroh, mereka akui.
Ibarat orang
Yahudi, mereka membuang Taurat kitab suci, wahyu dari Allah SWT, diganti dengan
kitab Talmud, susunan rahib-rahib dan ulama-ulama mereka. Padahal para penyusun
kitab terutama Imam Madzhab semuanya melarang taqlid kepada mereka, dan harus
mengikuti Rasulullah saw, namun larangan itu tak didengar, bahkan sumber yang
mereka ambil pun bukan langsung dari Imam Madzhab itu, tetapi sudah generasi
yang tingkatnya jauh di belakangnya. Sehingga tak mengherankan kalau mereka itu
menjadi sangat jauh dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, walau mungkin inginnya
menjalankan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Karena sistemnya yang dipakai bukanlah
manhaj Islam yang telah diterapkan oleh para ulama’ salafus shalih, namun manhaj
Yahudi yang pilih Talmud daripada kitab suci aslinya. Maka tak mengherankan bila
sikap-sikap mereka pun banyak yang mirip Yahudi, dan kedekatan mereka terhadap
Yahudi pun sering lebih dekat ketimbang kepada Islam yang menegakkan Al-Qur’an
dan As-Sunnah. Mestinya mereka mengkaji kembali kesalahan-kesalahan yang
berlarut-larut sampai jauh ini. Suara orang lain pun kalau itu benar, tidak ada
salahnya untuk diperhatikan. ‘Afwan.
Bila Kiyai Menjadi Tuhan
Membedah Faham Keagamaan NU & Islam Tradisional
Oleh : Hartono Ahmad Jaiz
Kunjungi juga:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar