Rabu, 02 September 2015

Lakon tak Istiqomah, Ucapannya Mengeluh

Lakon tak istiqomah sangat nyata di kalangan NU, baik yang tua maupun yang muda. Namun, antara ucapan dan lakon, sering-sering berbeda. Ucapannya berupa keluhan. Misalnya, KH Yusuf Hasyim mengatakan, di masa Orde Baru, kaum Nahdliyin/ NU ditindas. Keluhan itu mari dibuktikan. Demikian pula Noer Iskandar sampai sehabis-habisnya mengecam Golkar (tulisan ini sama sekali bukan karena membela Golkar, tetapi hanya untuk membuktikan antara ucapan dan kenyataan) seperti tersebut di atas, padahal dia sendiri yang sampai mengatakan untuk mengharapkan Presiden Soeharto pemimpin Orde Baru ke pesantrennya, maka dia adakan istighotsah (arti asalnya minta tolong atau berdo’a. Nabi pernah istighotsah, minta tolong kepada Allah SWT waktu perang Badr, namun sendirian. Tidak mengadakan upacara istighotsah. Sedang Istighotsah model NU atau model shufi/ orang tasawuf itu berupa upacara dengan do’a-do’a dan shalawat yang belum tentu shahih/ benar secara syar’i, sedang mengadakan upacaranya itu sendiri tidak ada contohnya dari Nabi saw. Hingga upacara istighotsah itu hanyalah bikinan manusia. 

Dalam hal beribadah atau mendekatkan diri kepada Allah, kalau dibikin satu tatacara yang asalnya tidak ada tuntunan upacara seperti itu, maka hukumnya bid’ah, dan setiap bid’ah itu adalah sesat. Upacara bid’ah itu sering ditambah kesalahan lain lagi, misalnya dilakukan di jalanan atau tempat umum sehingga mengganggu kepentingan umum. Itu salahnya dua, sudah bid’ah, masih mengganggu lagi. Dan apabila tujuannya salah pula, misalnya hanya untuk mendukung pimpinannya, misalnya mendukung Gus Dur yang landasannya hanya karena ashobiyah/ fanatik golongan, maka salah lagi. Hingga bertumpuk-tumpuk salahnya. Tambahan lagi, menipu pula kepada orang-orang kecil, dikerahkan untuk kepentingan si penggede itu sendiri, maka salah lagi.). Demikian pula, Noer Iskandar lah yang mengarak sekian ulama untuk ramai-ramai ke rumah Soeharto untuk menyerahkan sumbangan berupa emas sekian kilogram, katanya untuk menanggulangi krisis moneter menjelang kejatuhan Soeharto dari kursi kepresidenan 1998.

   Semua yang dilakukan itu sia-sia, mubadzir, dan masih pula menodai atau paling kurang menyelewengkan kemurnian agama. Jadi bukan hanya merugikan ummat, namun merugikan pula bagi da’wah tegaknya agama Islam. Anehnya, mereka itu mengaku mengikuti jejak-jejak Imam Madzhab. Padahal, Imam madzhab sama sekali tidak ada satupun yang memberi petunjuk seperti itu. Di akherat nanti insya Allah para Imam Madzhab bisa dijadikan saksi atas kebohongan-kebohongan dan aneka penyimpangan yang dilakukan pengaku-ngaku bermadzhabkan kepada Imam Madzhab itu. Dari pendiri jam’iyah, pengurus, penerus dan orang-orang yang bertanggung jawab atas lestarinya penyelewengan yang didukung oleh jam’iyah dan pengurusnya, maka akan dihadapkan kepada mahkamah Allah. Mereka akan dituntut pula oleh Imam Madzhab yang  mereka jadikan tameng.

   Di dunia mereka sudah tidak terhormat karena aneka lakon yang mengatasnamakan agama namun menyimpang dari aturan agama yang benar, sedang di akherat insya Allah masih akan dituntut untuk mempertanggung jawabkan aneka penyimpangan yang menyangkut agama. Padahal, menyimpangkan atau bahkan mengatas namakan agama namun sebenarnya punya tujuan lain dan tak sesuai dengan Islam, itu hukumannya jauh lebih berat ketimbang sekadar lalai dari suruhan agama namun masih tetap mengakui benarnya suruhan itu, tanpa menyelewengkannya, tanpa menungganginya dan sebagainya. 

Dalam kasus ini, penyimpangan, penyelewengan, bahkan penunggangan agama untuk kepentingan ashobiyah, bukan kepentingan untuk meninggikan kalimah Allah itu justru diorganisir dan digerakkan oleh para elitnya secara sistematis. Sehingga agama itu sendiri dikorbankan untuk kepentingan ashobiyah. Ini lebih buruk pula dibanding ashobiyah itu sendiri. Padahal, ashobiyah itu sendiri  (tanpa menunggangi Islam) pun sudah merupakan keburukan yang sangat diberantas oleh Islam, karena termasuk faham dan perangkat utama jahiliyah.  Maka pantaslah kalau dari kelompok ashobiyah ini sampai ada Kiyai yang memprovokasi untuk membunuh tokoh mukmin. Karena memang ayat-ayat Al-Qur’an, dan hadits-hadits Nabi saw tidak digubris lagi oleh Kiyai ashobiyah. Ajaran ashobiyahnya baik itu bid’ah-bid’ah maupun sampai dengan khurofat dan aneka penyelewengan, lebih dipentingkan daripada Al-Qur’an. Hingga dalam berfatwa resmi lewat muktamar pun pegangan mereka bukan Al-Qur’an ataupun Al-Hadits, namun cukup kitab-kitab yang mereka anggap mu’tabaroh, mereka akui. 

Ibarat orang Yahudi, mereka membuang Taurat kitab suci, wahyu dari Allah SWT, diganti dengan kitab Talmud, susunan rahib-rahib dan ulama-ulama mereka. Padahal para penyusun kitab terutama Imam Madzhab semuanya melarang taqlid kepada mereka, dan harus mengikuti Rasulullah saw, namun larangan itu tak didengar, bahkan sumber yang mereka ambil pun bukan langsung dari Imam Madzhab itu, tetapi sudah generasi yang tingkatnya jauh di belakangnya. Sehingga tak mengherankan kalau mereka itu menjadi sangat jauh dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, walau mungkin inginnya menjalankan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Karena sistemnya yang dipakai bukanlah manhaj Islam yang telah diterapkan oleh para ulama’ salafus shalih, namun manhaj Yahudi yang pilih Talmud daripada kitab suci aslinya. Maka tak mengherankan bila sikap-sikap mereka pun banyak yang mirip Yahudi, dan kedekatan mereka terhadap Yahudi pun sering lebih dekat ketimbang kepada Islam yang menegakkan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Mestinya mereka mengkaji kembali kesalahan-kesalahan yang berlarut-larut sampai jauh ini. Suara orang lain pun kalau itu benar, tidak ada salahnya untuk diperhatikan. ‘Afwan.


Bila Kiyai Menjadi Tuhan
Membedah Faham Keagamaan NU & Islam Tradisional
Oleh : Hartono Ahmad Jaiz

Kunjungi juga:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar