Sabtu, 05 September 2015

Potret Sains Sekuler

Dalam Seri 005 yang lalu telah dibicarakan tentang sains yang tidak otonom, karena sains itu dalam kenyataannya telah memihak kepada golongan yang tidak mau tentang Tuhan, sehingga pada hakekatnya sains itu tidaklah bebas nilai. Dan dalam Seri 006 sains itu didefinisikan atau diartikan di atas paradigma tawhid (monotheisme yang percaya akan wahyu), maka dalam seri ini sains sekuler yang bertumpu di atas faham filsafat positivisme akan disajikan potretnya. 

Pertama-tama sains atau ilmu pengetahuan eksperimental itu, walaupun diberi predikat eksperimental, tidaklah mampu untuk memberikan informasi berupa realitas. Ambillah misalnya Ilmu falak/astronomi, fisika, ilmu kimia, biologi, kesemuanya itu tidaklah memberikan informasi tentang realitas. Semua TaqdiruLlah, atau istilah sekulernya hukum alam, yang dapat diungkapkan melalui ilmu-ilmu tersebut di atas hanyalah generalisasi yang dibatasi oleh aproksimasi. (Perlu dijelaskan mengenai istilah ini, oleh karena dalam bahasa Indonesia istilah "pendekatan" mempunyai dua arti: approach dan approximation, maka untuk pengertian approach dipakai istilah pendekatan, sedangkan untuk pengertian approximation dipakai istilah aproksimasi). 

Lintasan bumi mengelilingi matahari adalah elips. Namun karena jarak di antara kedua titik api elips itu kecil dibandingkan dengan ukuran lintasan, maka dianggap saja satu titik Dengan anggapan ini maka elips itu sudah menjadi lingkaran. Jadi lintasan bumi mengelilingi matahari suatu lingkaran, itu adalah aproksimasi, yaitu mengabaikan beberapa kondisi tertentu. Contoh lain yang paling mudah, di dalam ilmu permesinan, ataupun juga sipil, harga percepatan gravitasi di ambil harga aproksimasi, yaitu g = 9,8 m/det2. Aproksimasi yang terjadi di sini ada dua jenis, yaitu kwantitas dan kwalitas. Kwantitas berupa pembulatan angka dan kwalitas berupa anggapan bahwa bumi ini bulat sebagai bola. Artinya bentuk bumi yang sebenarnya yang bukan bola diabaikan. 

Contoh yang lain ialah TaqdiruLlah yang diungkapkan oleh Newton, yaitu gaya tarik menarik di antara dua benda berbanding lurus dengan massa kedua benda itu dan berbanding terbalik dengan kwadrat dari jarak kedua benda itu. Ini generalisasi yang dibatasi oleh aproksimasi. Yaitu Rumus Newton itu tidak berlaku bagi kedua benda Mercurius dan matahari. Sebenarnya di bumi kita ini Rumus Newton itu ada juga penyimpangan tetapi sangat kecil, jadi diabaikan. Maka para pakar di bidang mesin dan sipil dan juga elektro dapat berbesar hati dengan masih dapat mempergunakan Rumus Newton yang sederhana itu dalam fasal hitung menghitung, mendisain (merancang-bangun), merekayasa. Lebih lanjut, Teori Relativitas Umum Einstein sebagai koreksi atau penghalusan Rumus Newton, juga generalisasi yang dibatasi oleh aproksimasi. Dalam kalkulasi tensor Einstein, space-time continum (ruang waktu yang kontinu), ia mengambil model bola berdimensi empat. Mengapa bola, bukan elipsoide, atau pelana kuda, ya, karena bola itu lebih sederhana ketimbang dengan elipsoide ataupun pelana kuda yang ruwet/complicated. Dalam batas yang sangat kecil permukaan elipsoide ataupun permukaan pelana kuda dapat dianggap sama dengan permukaan bola. 

Yang kedua, setiap ilmu pengetahuan, jadi bukan hanya sains, yang ilmu pengetahuan eksperimental itu, potretnya seperti berikut: Orde/taraf yang lebih rendah menjelaskan fenomena yang lebih tinggi ordenya. Etika diangkat dari pertanyaan kemanfaatan dan tabiat. Kita semua tahu bahwa kemanfaatan dan tabiat itu lebih rendah ordenya dari etika. Politik ekonomi mengabaikan permasalahan tentang keadilan, solidaritas, dan dibangun di atas landasan yang jauh lebih rendah ordenya, yaitu kebutuhan individu. Dalam biologi, ilmu tentang hidup, dikesampingkan sama sekali hal yang sangat esensial bagi hidup dan kehidupan, yaitu kepribadian, kesadaran. Ilmu biologi, ilmu tentang hidup ini hanya dan juga dibangun atas landasan yang rendah ordenya, seperti gerak reflex, ikatan kimiawi sampai kepada protoplasma dan osmose. Demikian pula fisika dan kimia dibangun di atas landasan yang lebih rendah ordenya, yaitu molekul, atom, nukleon, elektron dll. Ilmu falak di reduksi menjadi gerak benda-benda langit dan hukum-hukum mekanika. Semua contoh yang diberikan itu menunjukkan orde lebih rendah menjelaskan orde lebih tinggi, bahkan ada orde lebih tinggi yang dikesampingkan. 

Alhasil, kesimpulan yang dapat ditarik dari potret itu adalah demikian: Generalisasi, aproksimasi kwantitatif dan kwalitatif, orde lebih rendah menjelaskan orde lebih tinggi tidak mampu untuk menjelasakan realitas. Kebenaran ataupun realitas tidak mampu dicapai atas usaha manusia. Kebenaran ataupun realitas itu diturunkan dari Allah oleh Allah kepada manusia melalui wahyu dengan perantaraan para Rasul. Al Haqqu min Rabbika (S.Ali 'Imran 60), kebenaran itu dari Tuhanmu Yang Maha Pengatur. 

Ini adalah sekadar sumbangan pemikiran yang perlu direnungkan dalam menyambut Pameran Riset dan Teknologi. Sekadar kesimpulan dari suatu potret. WaLlahu a'lamu bishshawab. 

*** Makassar, 24 Mei 1992 [H.Muh.Nur Abdurrahman]



KUMPULAN TULISAN H.M. NUR ABDURRAHMAN
(Dari Kolom Tetap Harian FAJAR bertajuk "Wahyu dan Akal - Iman dan Ilmu")

Kunjungi juga:

Pakar Yunani Kuno vs Pakar Muslim di Bidang Ilmu-Ilmu Eksakta

Matematika bangsa Yunani Kuno terbentuk dari bahan-bahan tradisi bangsa-bangsa Sumaria, Babilonia dan Mesir Kuno, demikian pula halnya Ilmu Pengetahuan Alam/sains, yang asasnya hanya pada observasi saja. Ilmu Ukur diperkembang oleh pakar Yunani Kuno secara sistematis, dan mencapai puncak kemajuannya dalam zaman Euclid. Namun dalam bidang matematika yang lain yaitu ilmuhitung, tidak memperolah kemajuan. Tidak ada pertambahan operasi, tetap hanya menambah, mengurang, mengali dan membagi saja. Dengan demikian mereka itu hanya tetap berkisar dalam bilangan rasional saja. Hal ini membawa akibat yang parah, ilmu hitung tidak dapat mengikuti perkembangan ilmu ukur, sehingga ilmu ukur itu berjalan sendiri tanpa dukungan ilmu hitung. Ada beberapa bagian dari Dialogue Plato (427 - 347 Seb.Miladiyah) yang menunjukkan pemisahan itu mencapai puncaknya, artinya keduanya sudah terpisah sama sekali dalam zaman Euclid. 

Alhasil matematika di tangan bangsa Yunani Kuno pecah dua dalam pengertian yang sebenar-benarnya. Ilmu ukur maju melesat ke depan meninggalkan ilmu hitung jauh di belakang. Dengan demikian matematika di zaman Yunani kuno tidak mungkin dapat dipakai untuk menunjang sains/ilmu pengetahuan alam dalam hal mengujicoba hasil penafsiran alam, sehingga sains hanya terpaku pada teori yang sifatnya spekulatif. Maka asas Pendekatan Ilmiyah di zaman Yunani Kuno terhenti hanya sampai penafsiran saja sebagai tahap lanjut dari observasi. 

*** 

Para Pakar Muslim kuno di zaman keemasan Islam (abad 7 sampai abad 13 Miladiyah) berhasil memperkembang ilmu ukur menjadi ilmu ukur sudut dan ilmu ukur bola seperti yang kita kenal sekaang ini. Al Battani (858 - 929) mengganti busur dengan sinus, mempergunakan tangen dan kotangen. Abu 'lWafa (940 - 997) mendapatkan metode baru untuk membuat tabel sinus, memperkenalkan sekan dan kosekan. Operasi dalam ilmu hitung diperlengkap dengan operasi akar dan logaritme sebagai lawan pangkat. Dengan demikian ruang lingkup bilangan menjadi lebih luas, yaitu bilangan irrasional dan imajiner. Kata-kata logaritme dan algorism berasal dari nama orang yang mendapatkannya yaitu Al Khawarismi (780 - 850). Di tangan para pakar Muslim itu cabang-cabang matematika yaitu itu ilmu hitung dan ilmu ukur diperkembang kemudian dijalin menjadi utuh tidak terlepas seperti dalam keadaannya di tangan para pakar Yunani Kuno tersebut. Maka menjadilah matematika itu sebagai disiplin ilmu yang menunjang metode ujicoba dalam sains. Alhasil kebudayaan Islam (maksudnya kebudayaan yang diisi oleh nilai-nilai non-historis, yaitu wahyu) dapat menyumbangkan metode ujicoba yang memungkinkan lahirnya Ilmu Pengetahuan seperti yang kita miliki sekarang ini. 

Yang ideal bagi orang-orang Yunani Kuno adalah keindahan visual. Inilah yang menjadi landasan ideologi mereka. Keindahan yang berasaskan perbandingan yang dinyatakan oleh hubungan angka-angka yang tetap. Wajah manusia, patung, atau bentuk arsitektur, bahkan drama harus mempunyai perbandingan-perbandingan tetap di antara bagian-bagiannya supaya indah. Keluar dari hubungan angka-angka perbandingan itu mengakibatkan sesuatu itu "rusak" bentuknya sehingga tidak menjadi indah lagi. Pola pemikiran ini menghasilkan pandangan bahwa alam semesta ini merupakan kesatuan yang statis, oleh karena bagian-bagian dari alam smesta ini harus mempunyai perbandingan yang dinyatakan oleh hubungan angka-angka yang tetap. Alhasil, pengertian waktu bukanlah hal yang perlu mendapat perhatian, oleh karena alam semesta ini statis. Bahkan menurut Zeno dan Plato waktu adalah sesuatu yang tidak-nyata (unreal). Maka dapatlah kita mengerti apabila para pakar Yunani Kuno hanya menghasilkan matematika yang statis sifatnya, tidak mengandung unsur variabel dan fungsi. Demikianlah idea orang Yunani Kuno yang menganggap ideal keindahan visual, hanya dapat menghasilkan matematika yang statis. 

Yang ideal bagi seorang Muslim bukanlah keindahan visual, melainkan Yang Tak Terbatas, yaitu Allah SWT dengan sifat-sifatnya yang Maha Sempurna. Pakar-pakar Muslim dituntun oleh akar yang non historis, yakni wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, yaitu Al Quran. Dalam S. Al Fathihah Allah disebut Rabbul'alamien, Maha Pengatur alam semesta. Dengan demikian alam semesta ini tidak statis, melainkan dinamis. Dan unsur penting dalam dinamika ialah waktu. Jadi menurut pandangan seorang Muslim waktu itu riel, tidak seperti pandangan Zeno dan Plato di atas itu. Bahkan dalam Al Quran ada sebuah surah yang bernama S. Al 'Ashr. Surah ini dibuka dengan kalimah wa-l'Ashri, yang artinya perhatikanlah waktu. 

Masuknya faktor waktu dalam matematika, mengubah wajah matematika itu menjadi baru sama sekali. Ilmu hitung diperkembang menjadi aljabar. Unsur ilmu hitung yang statis yaitu bilangan, diperkaya dengan unsur yang dinamis yaitu variabel dan fungsi. Dalam matematika ada dua cara dalam menyatakan fungsi. Pertama yang langsung y(x), yang kedua melalui parameter waktu x(t), y(t), yang ditampilkan oleh Al Biruni (793 - 1048). Umar Khayyam menciptakan pula sejenis matematika yang disebutnya dengan al khiyam, sayang ilmu itu tidak berkembang hingga dewasa ini. 

Kesimpulannya dapatlah kita lihat pakar Yunani Kuno tidak mampu mengembangkan matematika untuk dapat dipakai sebagai disiplin ilmu dalam hal menunjang metode ujicoba dalam sains. Para pakar Muslim Kuno telah berhasil memperkembang matematika, sehingga dapatlah matematika itu dijadikan disiplin ilmu yang dapat menunjang metode ujicoba dalam sains, sehingga sains dapat mencapai wujudnya yang sekarang ini, yaitu observasi, penafsiran observasi yang menghasilkan teori yang spekulatif kemudian dengan unsur ujicoba yang menyaring teori yang spekulatif itu sehingga tidak spekulatif lagi. WaLlahu a'lamu bisshawab 

*** Makassar, 1 Maret 1992 [H.uh.Nur Abdurrahman]



KUMPULAN TULISAN H.M. NUR ABDURRAHMAN
(Dari Kolom Tetap Harian FAJAR bertajuk "Wahyu dan Akal - Iman dan Ilmu")

Kunjungi juga:

Surah Al Anfaal 25 dan Hadits Safinah tentang BICS

Syahdan, tersebutlah sebuah kisah nyata yang terjadi pada sebuah proyek pembangunan sebuah pabrik yang berlokasi di Arasoe tidak jauh dari sebelah selatan Watampone ibu kota kabuten dengan nama yang sama. Pada waktu terjadinya kisah ini jalan raya belum mulus beraspal, melainkan masih berlubang-lubang. Dan bila musin hujan, kerbau mempunyai fasilitas untuk berkubang di dalamnya. Sudah hal yang lumrah, oto yang bermuatan lebih akan mengalami patah pegas. Dan itulah yang menimpa nasib kendaraan proyek yang akan ke ibu kota. Fasalnya ialah kendaraan beroda empat itu selamanya melebihi jumlah yang tercantum dalam (S)urat (P)erintah (J)alan, oleh karena selalu dicegat oleh ibu-ibu para isteri staf pegawai proyek. Dan tentu saja sang sopir tidak berani melarang nyonya-nyonya itu untuk naik. Perlu dijelaskan bahwa di lokasi proyek/pabrik telah lebih dahulu dibangun perumahan yang memadai bagi para pegawai staf proyek, sehingga mereka dapat memboyong anak isterinya ke lokasi.

Saya sebagai dosen mata ajaran management Fakultas Teknik Unhas diperbantukan di proyek itu untuk menanggulangi peralatan mesin-mesin yang terbengkalai, agar tidak menjadi besi tua. Fasalnya adalah proyek itu di bangun pada zaman Orde Lama yang waktu itu banting stir ke kiri. Setelah pemberontakan komunis Gestapu, terbengkalailah hubungan dengan negara tempat asal peralatan proyek itu. Maka peralatan mesin-mesin itu terancam menjadi besi tua. Saya berdyukur mendapat kesempatan untuk mempratekkan management Islami di lapangan.

Saya sarankan kepada Ir Abd Rasyid yang kepala proyek untuk mengatasi masalah kelebihan muatan, akibat keterlibatan nyonya-nyonya yang akan pergi shopping itu di ibu kota kabupaten. Saran saya supaya diterapkan S. Al Anfaal 25 dengan ilustrasi Hadits safinah. Sudah tentu kepala proyek tidak mengerti saran itu.

Maka saya informasikan sebagai berikut. Surah Al Anfaal 25 berbunyi demikian: Wattaquw fitnatan laa tushiebanna-lladziena zhalamuw minkum chaashshah, artinya peliharalah dirimu dari bencana yang ditimpakan tidak hanya khusus kepada orang-orang yang zalim di antara kamu sekalian. Adapun ilustrasinya seperti yang disabdakan Nabi Muhammad SAW dalam Hadits mengenai safinah (kapal atau perahu) adalah seperti berikut: Nabi mengibaratkan kita ini menumpang sebuah kapal dengan tempatnya masing-masing. Ada di geladak, ada di ruang bawah. Apabila yang di bagian ruang bawah ingin mendapatkan air haruslah menempuh tata-cara yang sudah digariskan. Naik dahulu ke geladak, kemudian menimba air, lalu turun lagi ke bawah di tempatnya semula. Apabila yang bersangkutan ingin cepat mendapatkan air, yang dikiranya itu adalah akselerasi modernisasi, ia akan menempuh terobosan baru. Dengan melubangi dinding kapal, ia serta merta akan mendapatkan air, tanpa susah-susah mengikuti posedur yang dilazimkan. Apabila ada seorang penumpang lain memegang tangan orang itu sebelum sempat membuat lubang, maka demikian sabda Nabi, si pencegah ini telah bertindak menyelamatkan dirinya, menyelamatkan si pembuat terobosan baru, bahkan telah menyelamatkan seluruh penumpang dan isi kapal dari bencana terkubur di dalam laut. Demikianlah ilustrasi menurut Hadits safinah tersebut.

Setelah mendengarkan informasi itu, serta merta Ir Abd.Rasyid berucap, oh itukan Built In Control System. Maka diterapkanlah prinsip BICS itu. Dibuatlah ketentuan, apabila sopir melihat interfensi nyonya-nyonya yang akan menyebabkan muatan melebihi seperti yang tercantum di atas SPJ, sopir dengan segera mengembalikan oto ke garage. Uang jalan sopir tetap dibayarkan walaupun tidak jadi berangkat. Jadi sopir yang tidak berani melarang itu tidak usah melarang. Kembali ke garage berarti mendapatkan tambahan upah tanpa pergi meninggalkan lokasi. Enak buat sopir.

Apa yang terjadi sesudah itu? Penumpang-penumpang yang sah menurut SPJ dengan serentak dan serempak melarang penumpang-penumpang yang tidak sah ikut naik. "Maaf ibu-ibu silakan jangan naik, sebab kalau ibu-ibu berpartisipasi naik ke oto, kami ini tidak jadi berangkat." Maka terjadilah BICS, karena semua penumpang merasa berkepentingan melakukan aksi kontrol, berhubung menyangkut kepentingan diri mereka masing-masing.

Maka demikianlah adanya. S. Al Anfaal 25 dengan ilustrasinya Hadits safinah terasa lebih asing bagi kebanyakan ummat Islam ketimbang BICS. Artinya milik sendiri kurang banyak dikenal ketimbang milik yang dipinjam dari orang lain. WaLlahu a'lamu bisshawab.

*** Makassar, 22 Desember 1991 [H.Muh.Nur Abdurrahman]



KUMPULAN TULISAN H.M. NUR ABDURRAHMAN
(Dari Kolom Tetap Harian FAJAR bertajuk "Wahyu dan Akal - Iman dan Ilmu")

Kunjungi juga:

Hukuman Bagi Pelaku Bid'ah

Pada zaman ini, aku tidak menasehatkan atau menganjurkan untuk menggunakan hajr sebagai solusi karena mudharatnya lebih besar ketimbang manfaatnya. Dan dalil terbesar adalah fitnah yang sekarang ini terjadi di Hijaz. Mereka semua dipersatukan oleh dakwah tauhid, dakwah kepada al-Qur’an dan as-Sunnah. Namun, sebagian di antara mereka memiliki kegiatan khusus, baik dalam bidang politik atau dalam sejumlah pemikiran yang sebelumnya tidak dikenal dari seorang pun ulama, yang bisa jadi pemikiran tersebut kadang benar dan kadang salah. Maka kita tidak sabar untuk mendengar sesuatu yang baru, terutama apabila perkaranya adalah suatu yang tampak jelas oleh kita sebagai suatu kemungkaran, sehingga kita langsung begitu saja memeranginya.
Ini adalah suatu kesalahan wahai saudaraku… ini adalah kesalahan!!! Apa kau mengharap teman yang tak punya kesalahan sedikitpun? Namun apakah kayu gaharu dapat terbakar tanpa mengeluarkan asap???
Kami berangan-angan sekiranya Ikhwanul Muslimin hanya sama seperti kita dalam masalah tauhid, itu saja. Hanya sama dalam tauhid saja sehingga Anda bisa bersama mereka namun mereka tidak ridha bersama kita walaupun dalam masalah aqidah. Mereka menganggap bahwa menghidupkan khilafiyah hanya mencerai-beraikan barisan dan seterusnya… Mereka, saudara-saudara kita tersebut, menyempal dari mereka sebuah jama’ah atau mereka yang menyempal dari jama’ah –wallahu a’lam-, mereka itu (sebenarnya) bersama kita di atas jalan kita, yakni al-Qur’an, as-Sunnah dan di atas manhaj as-Salaf ash-Shalih. Hanya saja mereka membawa suatu pemikiran baru yang kenyataannya sebagiannya salah dan sebagiannya benar.
Lantas, mengapa kita sekarang menyebarkan di antara kita dan sebagian kita kepada sebagian yang lain, perpecahan dan tahazzub (berpartai-partai) dan ta’ashshub (fanatisme? Padahal dulu kita –ahlus sunnah- adalah satu kelompok, lalu kemudian menjadi dua kelompok dan kemudian menjadi tiga kelompok. Jadilah ahlus sunnah (dengan sebutan) Safariyyun,[23] Sururiyyun.[24] dan seterusnya…[25]  Allohu Akbar!!! Yang memecah belah mereka hanyalah suatu perkara yang tidak layak untuk menjadi sebab perpecahan. Tidak ada perbedaan pada perkara-perkara besar yang tidak terbayangkan bahwa salafiyyun akan bertikai di dalamnya. Kita semua tahu dengan baik bahwa para sahabat berselisih di dalam beberapa permasalahan, namun manhaj mereka tetap satu!!!
Jadi, apabila ada sejumlah orang yang menyeleweng dari jama’ah ahlus sunnah atau ath-Tha’ifah al-Manshurah, maka hendaknya kita mensikapi mereka dengan lemah lembut dan halus wahai saudara, dan kita harus berupaya menjaga mereka agar senantiasa bersama jama’ah. Kita tidak meng­hajr dan mengisolir (muqotho’ah) mereka, kecuali apabila kita khawatir akan suatu keburukan dari mereka. Namun kekhawatiran ini tidaklah muncul dan tampak begitu saja. Tidak sesederhana apabila ada seorang yang menampakkan sebuah pendapat yang menyelisihi pendapat jama’ah maka dengan serta merta kita langsung segera memboikotnya. Kita harus sabar tidak tergesa-gesa dan meneliti lebih dahulu, semoga Alloh memberi petunjuk kepada hatinya atau kemudian telah menjadi jelas atas kita bahwa mengisolir (muqotho’ah)-nya ternyata cara terbaik.
Penanya :
Apakah ada hal lain yang diperlukan selain menegakkan hujjah kepada orang kafir agar dapat digolongkan sebagai kafir, atau kepada seorang mubtadi’ agar dapat digolongkan sebagai mubtadi’, atau maksiat, seperti meyakinkan atau menghilangkan syubhat (keragu-raguan)?
Syaikh :
Tidak, hal ini tidak perlu. Namun apa yang diperlukan adalah ilmu. Karena dengan ilmulah hujjah dapat tegak. Dia (orang yang menegakkan hujjah, pent.) haruslah seorang pewaris nabi (ulama, ed.) dan bukan orang biasa di antara orang-orang yang bermacam-macam.
Penanya :
Apakah jama’ah tabligh termasuk kelompok yang dibicarakan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam? Apakah al-Ikhwan dan at-Tabligh termasuk diantara kelompok (yang selamat) yang nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam mengabarkannya kepada kita??
Syaikh :
Tidak… tidak… al-Ikhwan al-Muslimun di dalam barisan mereka, terdapat anggota-anggotanya yang berasal dari berbagai macam kelompok. Diantara mereka ada yang syi’ah dan lain lain… oleh karena itu, tidaklah benar menyematkan kepada mereka label tunggal. Bahkan sesungguhnya kita katakan siapa saja di antara anggota-anggota mereka yang menggunakan manhaj yang menyelisihi manhaj (salaf), maka individu tersebut bukanlah termasuk al-Firqoh an-Najiyah (golongan yang selamat). Bahkan, ia termasuk golongan yang binasa. Salafiyyun sendiri… apa yang Anda fikirkan? Penilaian terhadap mereka juga dibuat pada tiap individunya masing-masing…

(Selesai)


[23]. Penisbatan kepada Safar Hawali, salah seorang  warga Negara Arab Saudi yang memiliki penyimpangan dalam masalah takfir dan memiliki buku-buku yang bernuansa politis dan isinya menuduh para ulama dengan tuduhan-tuduhan keji, semisal tidak faham waqi’ (realita), bodoh, mudah dibohongi penguasa, dan semisalnya. Dia juga menuduh Syaikh al-Albani sebagai murji’ah di dalam bukunya Zhahiratul Irja’. Dia memiliki buku yang berjudul al-Wa’du Kissinger yang dianggap fenomenal oleh pengikutnya, terutama ketika kasus “teluk” sedang panas-panasnya. Syaikh Albani di dalam kaset lain ketika ditanya tentang dirinya beliau menjawab bahwa Safar dan orang-orang yang sepemahaman dengan dirinya adalah khorijiyah ashriyah (Neo khowarij). Lihat pula pembahasan tentang Safar Hawali oleh Syaikh Abdul Malik Ramadhani di dalam kitab Madarikun Nazhor fis Siyasah.
[24]. Penisbatan kepada Muhammad Surur Zainal ‘Abidin., mantan Ikhwanul Muslimin yang beralih ke manhaj salaf namun pada akhirnya nuansa ikhwani pada dirinya masih kental. Syaikh Ahmad Yahya an-Najmi hafizhahullahu dalam al-Fatawa al-Jaliyah menyatakan bahwa pada dirinya terdapat sya’iun (sesuatu) dari sunnah dan sesuatu dari bid’ah, syaikh an-Najmi meringkas tiga kesalahan utamanya yaitu : (1) menyerukan untuk melawan penguasa kaum muslimin, (2) jihad dalam artian keluar memerangi penguasa kaum muslimin dan (3) menuduh para ulama bodoh terhadap fiqhul waqi’. Syaikh ‘Abdul Wahhab al-Washobi al-‘Abdali di dalam Isyruuna Ma’khudzan ‘alas Sururiyyah menjelaskan 20 kesalahan Muhammad Surur. Berikut ini akan kami nukilkan beberapa di antaranya :
  1. Dia (Surur) mengatakan di dalam kitab Manhajul Anbiya’ fid Da’wati ilallahi (I/8) bahwa kitab-kitab aqidah itu itu isinya banyak yang jafaf (sia-sia). Dan ucapan Surur ini ketika ditanyakan kepada Syaikh Utsaimin dan Syaikh Fauzan, mereka menjawab : “kufur”.
  2. Dia menuduh para ulama aqidah sebagai hambanya hambanya hamba dan tuan mereka yang terakhir adalah Nasrani, dikarenakan mereka adalah pendusta dan munafik. (Majalah as-Sunnah, no. 23 dan 26, terbitan al-Muntada al-Islami London; lihat pula al-Quthbiyah hiyal fitnah fa’rifuuha, karya al-Adnani, hal. 89)
  3. Dia memuji orang yang memperbolehkan seorang muslim untuk berpindah agama menjadi Yahudi dan Nasrani dan orang yang melarang untuk mengkafirkan Yahudi dan nasrani, yaitu DR. Hasan at-Turabi. Surur menyebutnya sebagai “imam”, “alim” dan “da’i besar Islam”.
  4. Dia mengkafirkan dengan sebab dosa besar sebagaimana di dalam kitabnya Manhaj ad-Da’wah : I/158.
  5. Dia menuduh Haiah Kibar al-Ulama’ (Lembaga Ulama Besar) berpemikiran Masoniyah (Freemasonry). (at-Tanbih, hal. 9).
  6. Dia membela orang yang menuduh Syaikh al-Albani sebagai Ilmani (sekuler). Dst…
[25]. Syaikh rahimahullahu di sini tidak memaksudkan untuk membela nama-nama yang disebut di atas. Namun syaikh di sini bermaksud menunjukkan fakta yang lain, yaitu mudahnya orang-orang yang berintisab dengan salafiy menuduh saudara-saudara salafiy lainnya yang melakukan satu, dua atau beberapa kesalahan yang sama dengan kesalahan surur atau safar dengan gelar-gelar sebagaimana di atas, tanpa ada nasehat, kelemahlembutan, kecintaan dan semisalnya. Bahkan mereka lebih senang untuk mentahdzir dan menggelari saudara-saudara mereka yang salah itu dengan gelar-gelar yang buruk ketimbang mereka mengajak mereka untuk kembali ke al-Haq.
Syaikh Ibrahim ar-Ruhaili hafizhahullahu berkata ketika ditanya tentang sururiyun : “Sururiyah termasuk istilah yang baru, para ulama telah berbicara tentang mereka dan tentunya ini dikembalikan kepada orang yang telah banyak meneliti, adapun globalnya mereka adalah yang menisbatkan dirinya kepada Muhammad Surur Zainal Abidin… akan tetapi tidak benar untuk menisbatkan setiap orang yang menyeleweng dalam masalah ini kepada sururiyah, terkadang seseorang itu akidahnya berada di atas aqidah ahlus sunnah dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan mereka, tapi dia telah menyeleweng dan penyelewengannya itu masuk dalam sururiyun, maka tidak boleh kita memecah belah manusia (dengan menuduhnya sururi)… sebab jika kita menggolong-golongkan manusia dan menisbatkan mereka, maka akan sangat susah mereka kembali ke al-haq setelah itu…” (lih. Nasehat Syaikh Ibrahim ar-Ruhaili untuk Salafiyin, hari Jum’at, 12 Muharam 1422 H, yang diterjemahkan oleh Ust. Badru Salam, disebarkan oleh Majlis Ta’lim Al-Furqon, Bogor).
Jawaban syaikh ini menunjukkan bahwa betapa banyak saudara-saudara kita –yang berintisab dengan salafiyin- begitu sangat mudahnya memberi gelar kepada saudara-saudara mereka yang –mungkin- jatuh ke dalam satu, dua atau beberapa kesalahan dengan tuduhan-tuduhan dan gelar keji, semisal sururi, hizbi, turotsi, irsyadi dan semisalnya… padahal belum ada munashohah dan munadhoroh dalam masalah ini. Sehingga bukannya malah maslahat yang diperoleh, namun malah perpecahan, permusuhan dan kebencian yang didapat. Belum lagi dakwah akan semakin terhambat karena kaum hizbiyun akan bertepuk tangan dengan gembira dan menjadikannya sebagai bumerang untuk menjauhi dakwah salafiyah mubarokah ini.


 

HAKIKAT BID’AH & KUFUR
Tanya Jawab Bersama :
SYEKH MUHAMMAD NASHIRUDDIN AL-ALBANI RAHIMAHULLAHU

Kunjungi juga: