Jumat, 04 September 2015

Membentengi Ummat dari Sekulerisasi dan Penyimpangan Pemikiran

   Di dalam sebuah Hadits yang panjang yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud diriwayatkan:
عن خذيفة بن اليمن رضي الله عنه قال: كان التاس يسألون رسول الله ص م عن الخير وكنت أسأله عن الشر مخافة أن يدركني فقلت، يا رسول الله، إنا كنا في جاهلية وشر، فجاءنا الله بهذا الخير فهل بعد هذا الخير من شر؟ قال: نعم، وفيه دخن . قلت: وما دخنه؟ قال: قوم يهدون بغير هديي.—وفي رواية: قوم يستنون بغير سنتي ويهدون بغير هديي.--  تعرف منهم وتنكر. قلت: فهل بعد ذالك الخير من شر؟ قال: نعم، دعاة على أبواب جهنم، من أجابهم إليها قذفوه فيها. قلت: يا رسول الله، صفهم لنا. قال: هم من جلدتنا ويتكلمون بألسنتنا. قلت: فما تأمرني إن أدركني ذلك؟  قال: تلزم جماعة المسلمين وإمامهم. قلت: فإن لم يكن لهم جماعة ولا إمام؟ قال: فاعتزل تلك الفرق كلها ولو أن تعض بأصل شجرة حتى يدركك الموت وأنت على ذلك. (رواه البخاري).
Artinya:

Dari Hudzaifah bin Al-Yaman ra, ia berkata; “Adalah orang-orang bertanya kepada Rasulullah saw dari hal kebaikan, tetapi aku bertanya kepadanya dari hal kejahatan, --karena— khawatir apabila kejahatan itu akan menjangkauku, maka aku berkata: “Ya Rasulallah, sesungguhnya kami dulu dalam kejahiliyahan dan keburukan. Lalu Allah mendatangkan  kebaikan ini (iman-Islam) kepada kami, maka apakah setelah kebaikan ini akan ada keburukan?”
Beliau bersabda: “Ya, “
Aku bertanya: “Dan apakah setelah keburukan itu ada kebaikan (lagi)?”
Beliau menjawab: “Ya, dan di dalamnya ada kekeruhan.”

Aku bertanya: “Dan apa kekeruhannya?”

Beliau menjawab: “Suatu kaum yang mengambil petunjuk kepada selain petunjukku.”—Dan ada suatu riwayat—Suatu kaum yang mengambil sunnah/ perbuatan kepada selain sunnahku dan mengambil petunjuk kepada selain petunjukku--. Engkau kenal mereka itu dan engkau ingkari.”
Aku bertanya: “Maka apakah setelah kebaikan itu ada keburukan (lagi)?”
Beliau menjawab: “Ya. Juru-juru da’wah/ penyeru-penyeru   ada di atas pintu-pintu jahannam, barangsiapa yang menjawab seruan mereka itu, maka mereka lemparkan dia ke dalam jahannam.”
Aku berkata: “Ya Rasulallah, tunjukkanlah sifat-sifat mereka itu kepada kami.”
Beliau menjawab: “Mereka itu dari kulit kita dan mereka berbicara dengan bahasa-bahasa kita.”
Aku bertanya: “Maka apa yang engkau perintahkan kepadaku apabila aku menjumpai yang demikian itu?”
Beliau bersabda: “Kamu tetaplah berada di jama’ah muslimin dan imamnya.”
Aku bertanya: “Apabila mereka (Muslimin) tidak memiliki jama’ah dan tidak punya imam?”
Beliau bersabda: “Maka kamu singkirilah kelompok-kelompok (firqah-firqah) itu seluruhnya walau kamu (harus) menggigit akar pohon sampai kamu menemui kematian dan kamu (tetap) atas yang demikian itu.”[1]
Dari hadits yang panjang itu, Prof Ahmad Muhammad Jamal (almarhum) guru besar kebudayaan Islam pada Universitas Ummul Qura Makkah, mengutip sebagiannya, untuk dijadikan landasan dalam pendahuluan kitabnya yang berjudul Muftaroyaat 'alal Islaam (Kebohongan-kebohongan terhadap Islam) yang diIndonesiakan menjadi Membuka Tabir Upaya Orientalis dalam Memalsukan Islam. Potongan Hadits yang ia kutip adalah: Bahwa sahabat Hudzaifah ibnu Al-Yamani pernah bertanya kepada Rasulullah saw.:
    "Wahai Rasulullah, apakah sesudah kebaikan ini akan ada masa keburukan?" Jawab Rasulullah:  "Ya., yaitu munculnya kaum yang mengajak orang lain ke neraka jahannam. Barangsiapa memenuhi ajakannya berarti telah menyiapkan dirinya untuk masuk neraka." Aku berkata: "Terangkanlah ciri-ciri mereka itu, wahai Rasulullah!" Jawab Rasul,  "Kulit mereka sama dengan kulit kita dan mereka bicara dengan bahasa kita."
    Beliau mengemukakan Hadits tersebut, karena menyesalkan sekali adanya orang-orang yang bersikap kebarat-baratan justru dari kalangan kita sendiri, warna kulitnya sejenis dengan kita, bahasanya sama dengan kita, bahkan semboyannya pun seperti semboyan kita. Namun mereka membelakangi sumber-sumber ajaran Islam berupa Al-Quran, Hadits, dan Sejarah Islam. Sebaliknya mereka hadapkan wajah dan hati mereka kepada sumber-sumber Barat. Kemudian mereka menuduh dan membohongkan Islam seperti yang diperbuat orang Barat.
   Menurut Syeikh Ahmad Jamal, pengaruh itu masuk ke orang Islam lantaran salah satu dari 3 hal:
   1. Karena mereka belajar di perguruan tinggi Barat, Eropa atau Amerika.
   2. Karena mereka belajar di bawah asuhan orang-orang Barat di perguruan tinggi di dalam negeri mereka sendiri, atau
   3. Karena mereka hanya membaca sumber-sumber dari Barat di luar tempat-tempat pendidikan formal dengan mengenyampingkan sumber-sumber Islami, karena tidak tahu atau karena ingin menyombongkan diri, yakni menganggap remeh terhadap sumber-sumber Islam.
    Kalau sudah demikian, tanggung jawab siapa?
    Kembali Syeikh Ahmad Jamal mengulasnya, bahwa itu adalah tenggung jawab kita --ummat Islam-- juga. Kenapa? Karena, kitalah yang mengirim mereka ke sekolah-sekolah dan perguruan tinggi Barat dengan aneka alasan. Pengiriman mahasiswa itu tanpa membekali antisipasi untuk mencegah keraguan-raguan yang ditanamkan guru-guru Barat, dan kita tidak menyediakan untuk mahasiswa itu citra dan syiar Islam serta bentuk rumah tangga dan negara yang benar-benar Islami. Hingga kita tidak bisa meluruskan mereka ketika bengkok.
   "Ya, kita mengirim mereka ke perguruan-perguruan Barat, namun kita tidak membangun rumah Islam buat mereka yang dapat melindungi mereka dari panah dan hembusan beracun orang-orang Barat." tulis Ahmad Muhammad Jamal.
    Dengan tandas, Ustadz itu mengemukakan bahwa di samping bahaya tersebut, masih pula kita mendatangkan tenaga-tenaga pengajar dari Barat untuk memberikan pelajaran di perguruan-perguruan dan universitas-universitas kita. Dapat dipastikan, tenaga-tenaga Barat itu menyampaikan kepentingan-kepentingan mereka sebagaimana yang dilakukan rekan-rekan mereka di negara Barat, yaitu meracuni dan menimbulkan rasa antipati terhadap Islam.
    Faktor-faktor itu masih pula ditambah dengan kesalahan kita yaitu membuka pintu lebar-lebar untuk penyebaran kebudayaan Barat, sehingga orang kita begitu saja membenarkan apa-apa yang datang dari Barat dan menerimanya bula-bulat. 
    Akibat dari itu semua, Ustadz Ahmad Muhammad Jamal (68th) yang wafat di Kairo Mesir pada Hari Arafah 1413H itu mengemukakan peringatan yang cukup tandas:
   "Dengan terjadinya hal-hal semacam itu maka juru da'wah Islam hanya dapat berteriak di lembah sunyi dan di padang yang lengang, bahkan mereka hanya dapat membacakan do'a kepada ahli kubur. Hanya sedikit pemuda Muslim yang diselamatkan oleh Allah. Yang sedikit inipun selalu dihalang-halangi kelompok jahat yang mayoritas itu dengan berbagai jalan. Setiap orang beriman ditekan, diintimidasi dan dirintangi dari menjalankan agama Alah."
   Menghancurkan Hukum Islam dan sistem Islam
    Upaya Barat untuk menghancurkan Islam --setelah selama 6 abad orang Barat belajar kepada kaum Muslimin-- mula-mula yang dihancurkan adalah hukum Islam. Hukum atau syari'at Islam telah berlangsung dan diterapkan sejak kepemimpinan Nabi Muhammad SAW sampai berkembangnya Islam ke berbagai negara di zaman kekhalifahan ataupun kesultanan.
   Pada masa pemekaran Islam ke berbagai negara pada abad ketujuh, delapan, dan kesembilan Masehi, Hukum Positif Romawi mulai jatuh dan dilupakan orang, sejak munculnya Justinius pada abad keenam Masehi. Hukum positif itu tidak bisa diberlakukan lagi berabad-abad, kecuali pada abad ke sebelas oleh seorang murid yang sempat belajar hukum Islam di Andalus, yaitu Paus Jerbart seorang Prancis yang dikenal dengan nama Silvestre II (1024M). Ia menjadi murid orang-orang Islam Andalusia abad 11, kemudian kembali ke Prancis dan mengkaji hukum positif Romawi dengan memasukkan unsur-unsur syari'at Islam yang telah ia terima. Tetapi Paus Silvestre dan lainnya tidak berani mempublikasikan ajaran yang membawa pengaruh syari'at Islam itu di depan Gereja. Kemudian hukum positif Romawi yang dibawa oleh Paus dapat diterima oleh Gereja sebagai perkembangan hukum yang terselubung. [2]
   Pada periode berikutnya, hukum Islam yang telah diberlakukan di berbagai negeri itu kemudian dipreteli (dilepas) diganti dengan hukum positif. Di saat hampir saja Inggris menduduki India (plus Pakistan dan Bangladesh) tahun 1791, Inggris sudah mengadakan gerakan untuk membatalkan syari'at Islam, kemudian orang Islam di sana mulai didesak untuk meninggalkan ajarannya dan menjalankan hukum mereka. Terjepitlah syari'at Islam pada saat itu, dan perstiwa inilah sebagai awal kemerosotan dunia Islam secara umum.
   Di belahan lain di Mesir, berlangsung pula revolusi Prancis yang dipimpin oleh Napoleon Bonaparte hingga tahun 1798. Tiga tahun setelahnya (1801M) mereka keluar dari Mesir setelah di belakang mereka telah disiapkan adanya sejumlah pendukung, percetakan-percetakan dan pemuka-pemukanya termasuk para pemikirnya yang nantinya siap untuk menghembuskan pergolakan pemikiran yang "cemerlang", seperti Muhammad Ali Basya yang menjadi agen Prancis dan mendapat dukungan dari semua warganya kecuali Raja Fuad (rahimahullah) hingga akhirnya Mesir menjadi negara bagian dari Eropa.
   Gerakan mereka tidak lain hanyalah perlawanan terhadap kaum Muslimin di Jazirah Arab dan sebagai barisan oposisi gerakan pembaharuan Wahabi.
   Adapun dengan Inggris dan Prancis mereka adalah agen-agennya, baik secara moral maupun intelektual. Di kalangan warga negaranya, Muhammad Ali Basya mewajibkan mereka untuk melaksanakan hukum Prancis pada th 1883, di Mesir. Dan ia mendirikan Mahkamah National sesuai dengan hukum Prancis. Tetapi setelah ia merasakan bahwa hukum itu kurang efektif dicabutlah dan diganti dengan hukum Belgia pada tahun 1887, dan setelah ia merasakan bahwa hal itu juga kurang efektif dicabutnya lagi dan diganti dengan hukum Itali pada tahun 1899, begitu seterusnya hingga dibentuk hukum positif Inggris yang berlaku untuk orang-orang Muslim India dan Sudan. Dan itulah yang menjadi hukum permanen di Mesir sebagaimana juga di empat bagian negara Eropa lainnya. Akan tetapi setelah Britania (Inggris) mulai melemah di Mesir, ditetapkan hukum Eropa di setiap lembaga pemerintahan di sana.
   Kemudian pengaruh-pengaruh Barat menyeruak ke seluruh daerah-daerah besar lainnya sampai di Turki Utsmani.
   Bangkitlah Kamal Ataturk pada tahun 1924M dan meruntuhkan kekhalifahan dan ia mengeluarkan momentum untuk menghapus Islam dengan segala bentuknya dan menegaskan agar seluruh manusia dapat meninggalkan aqidah dan syari'ah Islam.
   Di sisi pemikiran lain, muncul dari kelompok mereka, Syeikh Ali Abdul Razik (Mesir), ia termasuk barisan partai Hizbul Ahrar Ad-Dusturiin dan pernah meninggalkan Hizbul Ummah (partai Inggris). Ia mempromosikan bukunya Al-Islam wa Ushulul Hukmi. [3]
   Penyelewengan pemikiran dalam buku Ali Abdul Raziq

   di antaranya:
   1. Bahwa Syeikh Ali telah menjadikan syari'at Islam sebagai syari'at rohani semata-mata, tidak ada hubungannya dengan pemerintah dan pelaksanaan hukum dalam urusan duniawi.
   2. Berkenaan dengan anggapannya bahwa agama tidak melarang perang jihad Nabi saw. demi mendapatkan kerajaan, bukan dalam rangka fi sabilillah, dan bukan untuk menyampaikan da'wah kepada seluruh alam.
    Dia (Ali Abdul Raziq) menulis: ". dan jelaslah sejak pertama bahwa jihad itu tidak semata-mata untuk da'wah agama dan tidak untuk menganjurkan orang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya."
   3. Bahwa tatanan hukum di zaman Nabi saw. tidak jelas, meragukan, tidak stabil, tidak sempurna dan menimbulkan berbagai tanda tanya.
   Katanya: "Sebenarnya kewalian Muhammad saw. atas segenap kaum mu'minin itu ialah wilayah risalah, tidak bercampur sedikitpun dengan hukum pemerintahan."
   Menurut sidang para ulama Al-Azhar yang menghakimi Syeikh Ali Abdul Raziq, cara yang ditempuh Syeikh Ali itu berbahaya, karena ia ingin melucuti Nabi saw. dari hukum pemerintahan. Sudah tentu anggapan Syeikh Ali itu bertentangan dengan bunyi tegas Al-Quranul Kariem yang menyatakan:
     "Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan  (membawa) kebenaran, supaya engkau menghukum antara manusia dengan apa yang diperlihatkan (diturunkan) Allah kepadamu itu." (An-Nisaa': 105).
   4. Berkenaan dengan anggapannya bahwa tugas Nabi hanya menyampaikan syari'at lepas dari hukum pemerintahan dan pelaksanaannya.   
   Kalau anggapan itu benar tentunya ia merupakan penolakan terhadap semua ayat-ayat tentang pemerintahan hukum yang banyak terdapat di Al-Quran. Dan bertentangan juga dengan Sunnah Rasul saw. yang jelas dan tegas.  
   Masih banyak lagi penyimpangan pemikiran Ali Abdul Raziq, hingga ia diputuskan oleh forum alim ulama Al-Azhar dengan memecatnya dan mengeluarkan dari barisan ulama al-Azhar. Keputusan pemecatan itu dikeluarkan dalam persidangan terhadap Syeikh Ali Abdul Raziq yang dipimpin Abul Fadhal Al-Jizawi dengan anggota 24 ulama Al-Azhar tanggal 22 Muharram1344H/ 12 Agustus 1925M.
   Ternyata harian "Leverpool Post" dari Inggris mengungkapkan keburukan dan kejahatan yang diatur oleh penjajah Inggris, dengan menggunakan Ali Abdul Raziq sebagai alat pelaksanaannya, dibantu oleh segerombolan orang dari Partai Hizbul Ahrar Ad-Dusturiin. Berita itu dimuat 13 Agustus 1925.[4]
      Ummat kebingungan
   Sejak terjadinya pemisahan antara penguasa dengan sumber-sumber hukum Islam di kalangan ummat Islam, di mana manusia merasa kebingungan karena diombang-ambingkan oleh hawa nafsunya; para ulama pun sudah tak mau peduli. Masing-masing sudah sibuk dengan urusannya sendiri dan mereka pandang itulah yang lebih aman dan selamat.
   Ketika  terjadi kebangkitan Eropa baru, kondisi ummat sama sekali sudah tidak memiliki unsur-unsur kekuatan yang hakiki. Sebut saja akidahnya lemah dan tidak jelas lagi arahnya. Keyakinannya tidak mantap, akhlaqnya merosot, komitmennya hampir tak ada sama sekali. Pemikirannya jumud (beku), ijtihadnya macet total, kefaqihannya (kefahamannnya terhadap Islam) hilang, bid'ah merajalela, sunnah sudah diabaikan, kesadarannya menipis, sampai-sampai yang  namanya ummat tidak seperti ummat lagi. Maka orang Barat mengeksploitasi kesempatan tersebut dengan menjajah dan menguasai berbagai negeri dan menghabisi sisa-sisa unsur kekuatan pribadi ummat sampai keadaannya seperti apa yang kita rasakan sekarang. Penuh kehinaan tanpa memiliki wibawa sama sekali. Segala urusan kita berada di tangan musuh, dan nasib kita ditentukan oleh mereka para penjajah itu. Akhirnya kita minta bantuan kepada mereka untuk menyelesaikan segala problem yang timbulnya dari pribadi kita sendiri. [5]
    Para penjajah benar-benar  memahami karakteristik ummat yang dijajahnya (yang keadaannya telah carut marut itu). Mereka memfokuskan perhatian pada pembentukan program pengajaran dan lembaga-lembaganya, dengan harapan dapat mengubah pemikiran-pemikiran kaum Muslimin sehingga siap untuk menerima pemikiran-pemikiran alam baru dan berusaha menyelaraskannya.
   Para penjajah kafir tersebut beranggapan bahwa penerimaan kaum Muslimin terhadap realitas yang baru dapat mendorong mereka untuk mencapai kemajuan.
   Hal itu mereka analogikan pada negara-negara Eropa yang tidak merencanakan programnya yang benar-benar mantap untuk mencapai suatu peradaban kecuali setelah melepaskan agamanya dan bebas dari belenggu gereja. Menurut mereka, semua agama hanya merupakan lembaga serta penghalang untuk mencapai tujuan.
   Allah SWT berfirman:
   كبرت ..........                                               إلا كذبا

   "Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka, mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecualidusta." (Al-Kahfi: 5).
    Tuduhan-tuduhan mereka itu memang benar untuk agama mereka, namun sangat jauh untuk dikatakan benar terhadap dien Al-Islam. Karena, dengan Islam itu Allah menghendaki agar manusia hidup bahagia dan terwujud segala keinginannya.[6]     
        Penjajah menekan sistem pengajaran Islam
   Dalam rangka usaha untuk memisahkan ummat dari eksistensi dan kehidupannya yang Islami, para penjajah kafir melakukan tekanan-tekanan dan hambatan terhadap sistem pengajaran Islam. Mereka juga menghembuskan pemikiran-pemikiran yang dapat merendahkan kedudukan dan menghina pelajar-pelajaran Islam.
   Sebagai kebalikannya, mereka memperhatikan dan membantu murid-murid yang memasuki sekolah-sekolah baru tempat pendidikan mereka (penjajah). Di hadapan mereka  dihadapkan pintu masa depan yang gilang-gemilang dan akhirnya posisi kepemimpinan ummat menjadi tergantung kepada mereka (yang diasuh penjajah itu, pen).
   Begitulah tekanan-tekanan yang dilancarkan terhadap sistem pendidikan Islam dan bahasa Arab. Semua jalan yang menuju ke sana tertutup rapat. Murid-murid yang tetap tekun hanyalah sebagian kecil saja. Biasanya mereka banyak menghadapi tekanan tekanan yang seringkali mengakibatkan mereka berhenti dan macet di tengah jalan. Kalau tidak, maka mereka dihadapkan pada perlakuan yang berbeda, dengan para lulusan sekolah mereka (penjajah).[7]
    Sistem itu masih dilanjutkan pula oleh pemerintahan baru setelah lepas dari jajahan. Walaupun para pemegang tampuk pemerintahan (baru yang sudah merdeka) mengaku dirinya Muslim, namun cara-cara penjajah tetap diterapkan bahkan lebih intensip. Baik itu mengenai sistem hukum/ peradilan dan pemerintahan, maupun sistem pendidikan dan penerimaan pegawai. Istilah lokal Jawa, Londo Ireng (Belanda Hitam alias pribumi, namun kejamnya dan liciknya dalam penerapan kekafiran lebih Belanda /lebih menjajah dibanding Belanda penjajah).
   Akibatnya, di samping yang mendapatkan kesempatan memimpin itu orang-orang yang tidak tahu Islam karena pendidikannya ala kafirin, masih pula sikap mereka pun sudah menjadi orang yang sekuler tulen, dalam bentuk keturunan orang Islam. Pola pikirnya sekuler, gaya hidupnya sekuler, pergaulan hidupnya sekuler, penerapan hukum dan pembelaannya ke arah sekuler, anti Islam.
   Membentengi ummat dari sekulerisasi dan penyimpangan pemikiran
    Tiba gilirannya, kita harus memikirkan, bagaimana membentengi ummat dari penyimpangan pemikiran, dari sekulerisasi dan penjerumusan ke arah kekafiran yang dilancarkan oleh musuh-musuh Islam secara beramai-ramai, walau mereka ada yang mengaku dirinya Muslim.
   Ibarat satu kampung, keadaannya sudah ditenggelamkan dalam air seperti kampung-kampung di sekitar Waduk Kedung Ombo di Sragen-Boyolali Jawa Tengah di saat ada pemaksaan dari pemerintahan Orde Baru selama 32 tahun (1966-1997) pimpinan Soeharto tempo hari. Hanya saja penenggelaman dalam pembahasan ini adalah dari segi sistem hukum, sistem pendidikan, dan kebijakan-kebijakan yang menyingkirkan Islam. Maka yang masih tersisa tinggallah yang diselamatkan oleh Allah SWT.
   Setelah tenggelam dalam pola pikir yang sekuler, yang tak Islami, lalu harus dibentengi dengan cara bagaimana?
   Secara teori, kita harus menyingkirkan segala pemikiran yang tak sesuai dengan Islam. Ibarat air yang telah menggenangi, maka harus ditawu, dipompa untuk dibuang, dan dikuras. Jadi pola pikir sekuler itu harus dikikis, bahkan diperangi agar terkikis habis. Setelah itu diisi dengan pola pikir yang Islami.
   Caranya?
   Secara teori, sistem hukum dan sistem pendidikan harus dikembalikan ke Islam.
   Caranya?
   Para pemegang kekuasaan bidang hukum dan pendidikan terdiri dari orang-orang yang berpola pikir Islami. Tetapi itu hanya bisa ditempuh bila pemegang kendali kekuasaan adalah orang-orang yang berpola pikir Islami.
   Untuk mencapai itu, mesti diadakan pendidikan yang intensip, yang secara herargis mencapai tingkatan sampai tinggi dan tetap punya komitmen yang tinggi terhadap pola pemikiran yang Islami.
   Bukankah nantinya tetap kalah dalam bersaing, karena sistemnya tidak memungkinkan untuk merebut pasar kedudukan?
   Di balik upaya manusia, dalam menegakkan kebenaran ini ada dukungan Allah SWT.
  يأيها الذين أمنوا إن تنصروا الله ينصركم ويثبت أقدامكم.
 "Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." (QS Muhammad/ 47:7).
   Itu jaminan Allah SWT.
   Di balik itu pula, Nabi SAW bersabda :
   لينقضن عرا الإسلام عروة عروة فكلما انتقضت عروة تشبث الناس بالتي تليها وأولهن نقضا الحكم وأخرهن الصلاة. (رواه أحمد).
   “Tali-tali Islam pasti akan putus satu tali demi satu tali. Maka setiapkali putus satu tali (lalu) manusia bergantung dengan tali yang berikutnya. Dan tali Islam yang pertama kali putus adalah hukum(nya), sedang yang terakhir (putus) adalah shalat.” [8]
    Tali-tali hukum Islam ternyata telah diputus-putus oleh penjajah dan dilanjutkan oleh pemerintah pengganti penjajah, dan para tokoh maupun ilmuwan sekuler, musuh Islam, anti Islam, atau yang alergi Islam. Demikian pula tali-tali sistem pendidikan. Bahkan sistem budaya pula, mereka habisi dari Islam.
    Kini hal yang jelas belum diputus adalah shalat (kecuali oleh kelompok sesat yang tak mewajibkan shalat, misalnya kelompok Isa Bugis ataupun Az-Zaitun yang punya sekolahan/ pesantren megah di Indramayu Jawa Barat yang tidak mewajibkan shalat, yang berarti telah menggerogoti Islam sampai batas terakhir), maka kita kembalikan apa yang putus-putus itu dengan membangun kembali shalat kita, dengan berjama'ah ke masjid-masjid dan meningkatkan kekhusyu'an. Dari situ, akan terbina insan-insan Muslim yang tangguh, yang mampu mengendalikan dirinya dari fahsya' (kekejian) dan munkar. Karena Allah SWT berfirman:
  إن الصلاة تنهى عن الفحشاء والمنكر. (العنكبوت: 45). 
"Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar". (QS Al-’Ankabuut 29:45).
    Terwujudnya masyarakat yang bisa terhindar dari fahsya’ dan munkar itu hanyalah kalau diselenggarakan shalat berjama’ah di setiap kampung dan pemukiman, atau di mana saja Ummat Islam berada. Sebab, tanpa diselenggarakan shalat berjama’ah, maka Nabi saw memastikan masyarakat itu pasti dikuasai oleh syetan. Nabi saw bersabda:
   ما من ثلاثة في قرية ولا بدو لا تقام فيهم صلاة الجماعة إلا استحوذ عليهم الشيطان فعليكم بالجماعة، فإنما يأكل الذئب من الغنم القاصية.  
Tidaklah dari tiga orang di dalam suatu desa dan tidak pula di pedusunan yang tidak didirikan di kalangan mereka itu shalat berjama’ah kecuali terhadap mereka itu syetan menguasainya. Maka wajib atas kalian berjama’ah, maka sesungguhnya serigala itu hanya memakan kambing yang terpencil (dari kawannya).” [9]
    Masyarakat Muslim yang aktif melaksanakan shalat berjama’ah insya Allah tidak dikuasai syetan, dan mereka itulah yang insya Allah mampu menghindarkan diri dari perbuatan fakhsya’ dan munkar. Sebaliknya, masyarakat yang tidak menegakkan shalat berjama’ah maka sudah dijelaskan oleh Nabi saw, pasti mereka dikuasai oleh syetan. Itu kalau tingkat kampung atau pedusunan. Lha kalau tingkatnya itu nasional, satu bangsa, yang jumlahnya 200 juta jiwa lebih, dan mayoritas/ kebanyakan mengaku dirinya Muslim, lantas mereka tidak aktif berjama’ah shalat di masjid-masjid dan mushalla, maka mafhum mukhalafah (pengertian tersirat) dari Hadits tersebut adalah: masyarakat itu bisa-bisa dikuasai oleh raja syetan (bukan sekadar syetan desa). Sedang syetan itu menurut Al-Qur’an ada yang dari jenis jin dan ada yang dari jenis manusia. Masih mending kalau dari jenis jin kafir, apabila dibacakan ayat kursi dan lain-lain maka pasti takut. Tetapi kalau syetan yang dari jenis manusia, walaupun dibacakan surat kursi tetap saja mendenges (tidak mempan), tidak takut. Maka ada perintah jihad memerangi orang kafir, musyrik, murtad, orang sekuler (sebab menurut Syeikh Muhammad Al-Ghazali Mesir, orang sekuler itu hukumnya murtad), dan munafiq; soalnya mereka tidak mempan dengan bacaan-bacaan berupa ayat-ayat yang ditakuti oleh syetan. Jadi harus dilawan dengan jihad.
    Masyarakat Islam yang taat berjama’ah shalat itulah yang sanggup berjihad melawan syetan-syetan berupa manusia. Dan dari situlah tercipta masyarakat Islam yang utuh, yakni secara rohani mereka sanggup mencegah diri dari fahsya’ dan munkar, sedang dari segi fisik mereka sanggup berjihad untuk meninggikan kalimah Allah SWT, melawan manusia-manusia kafir, durjana, munafik, musyrik, ataupun murtad.
  Dengan tumbuhnya sosok-sosok pribadi muslimin yang mampu mengendalikan diri dari fahsya' dan munkar dan berani berjihad itulah maka mereka akan memiliki bashirah (pandangan hati) yang tajam, yang mampu membedakan mana yang haq dan mana yang bathil. Hanya saja semua itu harus dilandasi ilmu Islam yang memadai, sehingga bashirah yang tajam itu akan dibentengi oleh hujjah yang benar. Itulah pokok jalan keluarnya.
       Al-hasil, jalan yang harus ditempuh adalah merestorasi pemahaman ummat dengan menanamkan aqidah shahihah, menegakkan shalat berjama'ah, mendisiplinkan da'wah Islamiyah, dan membentuk serta melaksanakan sistem pendidikan yang sesuai dengan Islam. Bila semua itu ditempuh maka pada masanya akan datang kebenaran ke dalam dada-dada Muslimin dan hancurlah kebathilan, tersingkir dari benak-benak Muslimin. Dari individu-individu Muslim, ke tingkat keluarga, ke tingkat kelompok, dan kemudian insya Allah akan ke tingkat yang lebih luas lagi, sehingga akan meratalah pemahaman yang benar tentang Islam. Kalau toh tidak sampai merata, insya Allah pribadi-pribadi yang terselamatkan itu sendiri berarti telah selamat dari kesesatan.
    Semua itu harus dimulai. Ibda’ binafsik. Mulailah dengan dirimu sendiri lebih dulu. Mari.
    Mudah-mudahan Allah memberikan kekuatan bashirah yang mampu mendeteksi bahwa yang bathil ataupun menyimpang itu tampak bathil, sehingga kita mampu menghindarinya. Amien.
 

      
[1] (HR Al-Bukhari,  Muslim, dan Abu Daud, shahih).
[2] (Dr Abdul Halim Uwies, Al-Islaamu kamaa yanbaghi an nu'mina bih, diindonesiakan menjadi Koreksi terhadap Ummat Islam, Darul Ulum Press, Jakarta, cet pertama, 1989, hal 82).
[3] (ibid, hal 84).
[4]  (Dari Al-Milal wan Nihal oleh Asy Syahrastani, dikutip Fathi Yakan, Islam di tengah persekongkolan musuh abad 20, GIP cet 6, 1993, hal 113, lihat H Hartono A Jaiz, Bila Hak Muslimin Dirampas, Pustaka Al-Kutsar, 1994, hal 83-84).
[5] (Dr. Thoha Jabir Fayyadh al-'Ulwani, Adabul Ikhtilaf fil Islam/ Beda Pendapat bagaimana menurut Islam, GIP, 1991, hal 135).
[6]  (ibid, hal 139).
[7]  (ibid, 140).
[8] (Hadits riwayat Ahmad dari Abi Umamah).
[9] HR Ahmad, Abu Daud, An-Nasaa’i, dan Al-Hakim, dan dia itu shahih.
 

Tasawuf, Pluralisme, & Pemurtadan.
- H Hartono Ahmad Jaiz -

Kunjungi juga:

Aneka kesesatan bisa bertemu di tasawuf

Faham yang menyesatkan itu ternyata bisa ketemu dari berbagai seginya. Dari yang dihembuskan oleh munafiqin, musyakkikin (penyebar keragu-raguan) mutashowwifin (para orang yang bertasawuf) lebih-lebih yang falsafi, ilmaniyyin (para orang yang sekuler), muwahhidil Adyaan (para orang yang berfaham pluralisme, menyamakan semua agama) mereka bisa ketemu di tasawuf. Karena di tasawuf lah yang metodenya longgar, tidak mementingkan shahih atau tidaknya suatu nash (teks) ataupun sumber yang dianggap sebagai dalil. Dan di sisi lain, keuntungan pihak-pihak perusak agama itu dalam bergabung dengan tasawuf adalah karena telah terbinanya suatu citra tipuan yang dihembuskan kepada masyarakat, bahwa untuk meningkatkan kesalehan seseorang itu perlu melalui tasawuf. 

Maka, secara langsung atau tidak, Ummat Islam ini digiring ke arah kesesatan secara nyata lewat tasawuf, yang pada dasarnya adalah ke arah hutan kesesatan, namun penggiringan itu mengambil kedok sebagai peningkatan kepada kesalehan. Ini benar-benar bahaya massal, namun tidak banyak disadari oleh Ummat Islam, baik yang mengaku ulama maupun intelektual Islam. Taruhlah misalnya mereka masih ngotot dan berdalih bahwa tasawuf yang mereka jajakan itu benar-benar hanya untuk menyucikan jiwa, coba dibuktikan, bisa dipastikan bahwa manhaj (metode) istidlal (pengambilan dalil) yang mereka gunakan tetap tidak ketat dalam menyeleksi shohih tidaknya nash ataupun sumber. Padahal pembahasan mereka menyangkut hal-hal ghaib dan aqidah, yang hal itu menurut Islam sumbernya hanyalah wahyu, yaitu Al-Qur’an dan hadits yang shohih. 

Namun para penjaja tasawuf itu tidak jarang hanya mengemukakan sumber berupa kisah syekh anu, wali anu, mimpinya syekh Fulan dsb. Model-model seperti itu masih pula bahkan kadang justru disertai upaya memperbodoh Ummat dan menipunya dengan cara seperti itu, yakni melestarikan penggiringan ke arah kesesatan massal. Sebagaimana para pendeta dan rahib-rahib Yahudi telah mencontohinya, dan dikisahkan secara otentik dalam Al-Qur’an. Hingga yang terjadi di masyarakat adalah suatu kejadian umum yang sebenarnya adalah ironis: Yahudinya mereka kecam, namun lakon buruk dan jahatnya mereka tiru dan terapkan untuk menjerumuskan Ummat, sambil meninggikan derajat pelaku-pelaku peniru rahib itu agar seperti derajat para rahib di hadapan kaum Yahudi, yang ciri khasnya adalah tidak mencegah dosa dan kemunkaran, namun bahkan memakan riba dan dari jalan  mengicuh, menipu dan membodohi Ummat, serta mengubah hukum-hukum Allah SWT.  

   Contoh kecil, tidak jarang kita temui, muballigh mengecam-ngecam tingkah Yahudi yang membantai Muslimin Palestina dengan sadisnya, ataupun ganasnya kaum Nasrani di berabagi tempat dalam membantai Ummat Islam dan mengadakan pemurtadan di mana-mana. Namun, mengecamnya itu di dalam acara bid’ah berupa maulid nabi. Pidato itu diungkapkan dengan menggebu-gebu, tampaknya benar-benar mengecam Yahudi Bani Israel dan kaum Salibis yang mengadakan pemurtadan Ummat Islam. Namun, di dalam mengecam Yahudi itu sendiri muballigh ini adalah mengamalkan ajaran model Yahudi dan Nasrani secara umum dalam mengada-adakan bid’ah dalam agama. Kalau Nasrani contohnya yaitu natalan, kalau ahli bid’ah yaitu meniru-niru memperingati kelahiran nabinya. Itu kan ironis. Kata pepatah Arab, bukan termasuk kebaikan, meletakkan sesuatu yang baik namun tidak pada tempatnya. 

    Lantas, barangkali mereka masih berdalih bahwa koreksi semacam ini hanya mengada-ada, menambah ruwetnya suasana, dan menambah perpecahan belaka. Bahkan tak lebih hanya mempersoalkan yang kecil, untuk menjegal sesuatu yang besar.

   Secara sekilas, kilah semacam itu (yaitu membela maulid nabi, dan bid’ah-bid’ah lainnya, dan tidak terima kalau dikritik) itu seakan benar. Tetapi perlu diingat, bahwa untuk memperbaiki Ummat Islam ini sebenarnya hanya bisa dengan jalan yang pernah ditempuh Ummat Islam terdahulu, yaitu dengan menepati perintah dan larangan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Tidak bisa dengan jalan lainnya. Lantas, mengada-adakan suatu perkara dalam agama (istilahnya bid’ah), yang hal itu merupakan larangan, maka mana mungkin cara itu bisa dijadikan jalan atau salah satu jalan untuk memperbaiki Ummat, apalagi melawan musuh Islam? Mana mungkin Ummat ini akan menjadi Ummat yang baik, kalau dalam melawan musuh Islam justru melakukan hal-hal buruk yang dilakukan musuh Islam? Dan mana mungkin Allah SWT memberikan pertolonganNya kepada orang-orang yang meniru-niru keburukan kaum yang maghdhubi ‘alaihim dan dhoolliin (dimurkai dan sesat)? Dan mana mungkin Allah akan menolong orang-orang yang menghadapi musuh Allah namun bukan untuk meninggikan kalimah Allah yang murni, tetapi kalimah Allah yang sudah dicampuri dengan tiruan-tiruan bikinan musuh Allah? 

    Jadi di sini jelas, masalahnya koreksian terhadap bid’ah ini bukan lantaran membesar-besarkan yang kecil atau bahkan memecah belah Ummat, namun justru ingin memberikan sumbangan kepada Ummat bahwa seharusnya kita menyadari betapa selama ini telah tidak menyadari pelanggaran-pelanggaran yang dianggap biasa, padahal sebenarnya memperbodoh dan menyesatkan Ummat. Lantas bagaimana kalau hal ini dibiarkan terus menerus dan bahkan dikembang suburkan oleh kita sendiri, hingga tahu-tahu kita dilibas oleh pihak-pihak yang punya kepentingan merusak Islam yang bergabung dalam kancah itu yang mereka ketahui efektif untuk merusak Islam namun Ummat Islam sendiri tak menyadari, bahkan mempertahankannya mati-matian? Bukankah itu berarti kita justru berada pada barisan musuh Islam, atau paling kurang pada barisan yang telah dicemari oleh musuh Islam,  namun  merasa bahwa diri kita berada pada penyeru Islam yang benar? Tragis. Dan memang kalau Ummat ini tetap dipacu untuk mempertahankan bid’ah tentu saja nasibnya tragis. Menyedihkan. Bukan hanya tidak jaya di akherat, namun di dunia ini pun hanya menjadi bulan-bulanan musuh-musuh Allah, baik itu syetan berupa manusia maupun syetan berupa jin. Sekalipun mereka mengaku melakukan perlawanan terhadap hawa nafsu dan mereka klaim sebagai jihad tertinggi, namun kalau kenyataannya justru mempertahankan bid’ah, itu bukannya melawan namun justru menjadi budak hawa nafsu. Dan salah satu buktinya, apabila mendengar kritikan seperti ini, boleh dibuktikan, biasanya mereka marah sejadi-jadinya, sesuai dengan kemauan hawa nafsunya. 

   Jalan keluarnya 

   Bagaimana menghadapi itu semua? Tentu saja kita harus kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah shahihah sesuai dengan pemahaman yang disampaikan oleh Nabi saw, difahami dan diamalkan oleh para sahabat, tabi’in, dan tabi’it tabi’in. Itulah jalan dan manhaj yang perlu ditempuh oleh Ummat Islam, setelah aneka jenis penyelewengan telah dibidikkan dan bahkan dijejalkan kepada Ummat ini dengan aneka cara. Ibarat cara-cara munafiqin dalam membangun masjid dhirar adalah dengan dalih untuk menolong kaum tua, kaum lemah yang tidak tahan dinginnya malam, agar dekat tempatnya dsb. Dalih-dalih itu wajib dipatahkan, sedang bangunan mereka pun wajib dihancur leburkan. Demikian pula bangunan berupa pemahaman dan pemikiran yang merusak Islam, wajib dihancur leburkan, dibalikkan kepada pencetus dan penganjur-penganjurnya, agar menimbuni mereka bagaikan longsoran bangunan yang akan menimpa mereka di jahannam, sebagaimana digambarkan dalam Al-Qur’an.
 

Tasawuf, Pluralisme, & Pemurtadan.
- H Hartono Ahmad Jaiz -

Kunjungi juga: